Oleh: manto | 10 Maret 2009

Refleksi Diri, Unsur yang Sering Dilupakan Pemimpin

Refleksi Diri, Unsur yang Sering Dilupakan Pemimpin

 Oleh: DR. Dwi Suryanto

 

“Benar tidak ya keputusanku tadi. Semua fakta sudah aku dapatkan, pendapat orang-orang sudah kudengar. Mestinya, aku sudah tenang. Tapi, rasanya masih ada yang kurang sreg di hati ini. Apa ya? Apakah aku sudah melihat berbagai sudut pandang, termasuk sudut pandang karyawan lain? Apakah aku sudah pikirkan dampak keputusanku ini terhadap nasib karyawan itu. Atau, sudah benarkah apa yang aku putuskan ini?” Begitulah kecamuk pikiran pemimpin itu setelah ia selesai memutuskan.

 

Bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan ke sebuah cermin besar, ia berkata lagi sambil menatap matanya lekat-lekat di cermin. “Beri aku pegangan John. Di masa lalu kau bisa memutuskan segala sesuatu dengan mantap, mengapa sekarang tidak. Tunjukkan John di mana letak kegalauanku ini.”

 

Johno, pemimpin tadi terbiasa bicara pada dirinya sendiri ketika ia menghadapi kesulitan besar. Melalui tanya jawab dengan dirinya, yang kadang keras dan mengagetkan tetangga ruang kantor sebelahnya, ia sering menemukan solusi-solusi jitu terhadap masalah yang dihadapinya.

 

Apa yang dilakukan oleh Johno tadi adalah refleksi. Refleksi ini berupa komitmen dari seseorang untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang digunakan untuk mengambil keputusan. Kadang ia juga menanyakan hal-hal yang sifatnya “taken for granted” berupa hal-hal umum seperti mengapa orang harus bekerja? Mengapa karyawan harus diawasi? Mengapa karyawan kalau tidak diawasi kerjanya sering seenaknya saja dan sebagainya.

 

Refleksi ini berbeda dengan berpikir seperti biasanya. Refleksi melibatkan perasaan bimbang, ragu, bingung, keheranan, kekaguman yang berbeda dengan berpikir biasa. Ia kemudian akan mencari, berburu, menyerap berbagai informasi yang bisa menepis keraguan dan kebimbangan yang menghantui benak pikirnya.

Refleksi ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Dalam rangka menggapai visinya, mungkin yang terlontar adalah pendapat-pendapat pribadinya. Dengan perasaan superior yang kadang menyembul tanpa terasa, seorang pemimpin terjebak membuat strategi-strategi yang mungkin bisa membahayakan di masa datang. Saat itu mungkin ia tidak memperhitungkan pendapat banyak pihak.

 

Ketika kemudian terjadi sesuatu yang buruk di masa datang, ia akan merasa sendirian menghadapi masalah itu. Mengapa? Karena ia tidak meminta atau memperhitungkan pendapat orang lain, yang mungkin bisa memberikan pandangan yang lebih obyektif terhadap masalah tersebut.

 

Menurut Brookfield (1995) seorang pakar manajemen mengatakan, “Ketika refleksi tidak hadir pada diri seorang pemimpin, ada resiko pasti seorang membuat keputusan buruk.”

 

Namun ada juga kecenderungan pemimpin untuk tidak mau berefleksi. Mengapa? Karena dengan refleksi ia akan kembali mempertanyakan hal-hal yang selama ini ia anggap benar. Contoh, karena bawahan tidak bekerja dengan baik, sebagai pemimpin, rasanya pantas memarahi karyawan itu. Karena ini dianggap benar, ketika pemimpin ini melihat bawahannya salah, otomatis ia akan marah.

 

Jika pemimpin itu mau refleksi, ia mungkin akan mengenali mengapa ia selalu marah kepada orang. Ia tahu marah adalah tidak baik. Kadang api kemarahan itu masih bergema ketika ia bercengkerama dengan keluarganya. Setelah refleksi, ia akan mencari cara-cara lain yang lebih efektif menghadapi kesalahan karyawan. Ia mungkin pula menemukan bahwa kemarahan itu ternyata merupakan cermin dari dirinya ketika ia sebagai bawahan dan sering “disemprot” sumpah serapah atasannya. Sekarang, tanpa sadar, ia ingin “balas dendam” dengan memarahi bawahannya, walau kadang kesalahannya tidak seberapa besar.

 

Ketika orang melakukan refleksi, ia menjadi orang yang memiliki pikiran terbuka. Ada ruang hati untuk mendengar sisi lain dari pendapatnya sendiri. Ia menjadi demikian perhatian terhadap pandangan lain yang berbeda. Ia akhirnya akan mengenali bahkan kepercayaan yang paling kokoh pun sebenarnya masih bisa dipertanyakan. Contoh, tujuan bisnis adalah memaksimalkan laba. Anda pasti setuju, soalnya inilah “ajaran dasar” dunia bisnis. Pertanyaannya, apakah laba mesti maksimal? Karena dijawab ya, maka terjadilah kehancuran alam seperti yang mudah kita lihat sekarang ini.

 

Filsafat dasar ilmu bisnis sekarang ini adalah dari Yunani – Romawi. Itu adalah hasil olah pikir manusia. Karena karya manusia, maka kebenarannya sangat terbatas, sangat relatif. Semestinya, yang jadi sumber filsafat adalah dari wahyu. Karena wahyu yang sifatnya transcendental, maka kebenarannya akan berlaku terus sepanjang masa.

 

Sekarang ini para pemikir mulai mempertanyakan kebenaran “dogma-dogma” bisnis yang seolah diterima sebagai kebenaran mutlak. Ingin contoh? Ini slogan yang begitu mendominasi dunia bisnis. “Pelanggan adalah raja” atau  “hanya yang terkuat dan tercepat yang menang” atau “kecil itu indah”, atau “bisnis anda harus focus” dan sebagainya. Apakah slogan itu benar? Banyak hal yang masih bisa dipertanyakan kebenarannya, dan itu jika kita mau refleksi.

 

Dengan refleksi, akan timbul tanggung jawab untuk secara aktif mencari kebenaran, dan berdasar kebenaran itu, seorang pemimpin akan melakukan keputusan yang terbaik.

 

Ketika berefleksi, ia akan mendobrak ketakutan-ketakutan dan keraguan-keraguan yang selama ini menghinggapi sanubari pemimpin itu. Bisa jadi keputusan-keputusan yang selama ini ia lakukan lebih sekadar ungkapan rasa takutnya terhadap sesuatu, dan bukan atas dasar kepentingan perusahaan.

 

Jika pemimpin mau secara rutin melakukan refleksi, maka perlahan tapi pasti, ia akan melangkah menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang etis, dan jika ia menoleh ke belakang, ia tidak akan terlalu menyesali terhadap keputusan yang sudah ia ambil…

 

Dari Buku Transformational Leadership Karangan DR. Dwi Suryanto


Kategori

%d blogger menyukai ini: