Oleh: manto | 2 Maret 2009

Tujuan Alloh melapangkan dan menyempitkan hati orang Arifin

Tujuan Alloh melapangkan dan menyempitkan

hati orang Arifin

 

بَسَطَكَ كَيْ لاَيُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ وَقَبَضَكَ كَيْ لاَ يَتْرُكَكَ مَعَ الْبَسْطِ وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لاَتَكُوْنَ لِشَيْئٍ دُوْنَهُ ( الحكم  )

 

” Alloh ta’ala memberi kamu kelapangan agar kamu tidak selalu dalam kesempitan, Alloh ta’ala memberi kesempitan kepadamu, agar kamu tidak hanyut didalam kelapangan. Alloh ta’ala melepaskan kamu dari keduanya, agar kamu tidak bergantung pada sesuatu selain Alloh.”

 

Hikmah yang terkandung pendek, akan tetapi membutuhkan penjelasan yang sangat panjang, karena pembahasan obyeknya tertuju kepada orang ahli ma’rifat, sangat besar sekali manfaatnya bagi kita untuk memahaminya, karena ada banyak persamaan dengan kita.

Sebelum kita memahami hikmah diatas, perlu kita ketahui dahulu istilah-istilah berikut ini;

  • 1. Al-Murid Al-Mubtadi’in yaitu orang yang masih mulai berjalan wusul kepada Alloh SWT.
  • 2. Al-Arif Al-Mubtadi’in

Murid yang mubtadi’in itu dapat digambarkan siswa yang masih bersekolah dasar sedangkan Arifin itu dapat digambarkan siswa perguruan tinggi.

Murid mubtadi’in itu ada tahapan-tahapan ( tingkatan-tingkatan ) mulai dari Abid,  Murid dan Arif dan dapat digambarkan dengan siswa Ibtida’, Tsanawiyah dan ‘Aliyah. Sedangkan Arifin itu juga ada tingkatan-tingkatan mulai dari Ibtida’ ( Ahlul Bidayah ), Ahlul Isyroq dan I’tidal ( Ahlun Nihayah ) dan dapat digambarkan seperti S1, S2 dan S3.

Istilah lainnya adalah Basthu dan Qobdlu

Seorang murid baik yang masih dalam tingkatan abid, murid maupun arif itu apabila menunggu-nunggu sesuatu yang menyusahkan, sesuatu yang ditakuti atau sesuatu yang dikhawatirkan itu disebut Khouf. Seperti anak ibtida’, tsanawiyah atau ‘aliyah apabila nilainya 3,5 padahal standar kelulusan adalah nilai 4,1 maka ia akan menunggu sesuatu yang mengkhawatirkan, sesuatu yang ditakutinya yaitu jangan-jangan nanti tidak lulus sekolah, kekhawatiran ini yang dinamakan khouf. Demikian pula mereka yang masih abid, murid yang mana mereka memiliki amalan-amalan yang sekiranya amalan-amalan itu merupakan pelanggaran-pelanggaran, dari sini ditakutkan tidak lulus dari abid tidak bisa meningkat pada murid dan dari murid tidak bisa meningkat kepada arif, dan ini namanya menunggu-nunggu sesuatu yang dikhawatirkan yang disebut khouf. Apabila menunggu-nunggu sesuatu yang menyenangkan itu disebut Roja’. Misalkan siswa yang nilainya 7,5 kemudian dia menunggu pengumuman kelulusan, maka dia menunggu sesuatu yang menyenangkan yaitu lulus.

Begitu pula orang yang ingin wusul kepada Alloh apabila memiliki amal atau hal yang berbeda dengan jalan yang digariskan oleh thoriqoh, apakah itu sembrono, kurang latihan, kurang dalam memerangi nafsu maka ini mengharapkan sesuatu yang dikhawatirkan yaitu tidak bisa lulus dan tidak bisa meningkat dan ini namanya khouf. Apabila hal dan amalnya baik dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan thoriqohnya maka ia akan berharap nanti akan lulus dan bisa meningkat dan ini namanya roja’.

Istilah khouf dan roja’ itu digunakan untuk murid ( baik yang masih abid, murid maupun arif permulaan ), sedangkan bagi arif ( baik yang masih bidayah, isyroq maupun nihayah ) menggunakan istilah qobdlu dan basthu. Jadi khouf itu sama dengan qobdlu dan roja’ sama dengan basthu.

Istilah lain yaitu kumpul ( jam’u ) dan pisah ( firoq ), ini semua disebut Maqom ( kedudukan ), dari uraian diatas dapat diketahui ada beberapa maqom, yaitu;

  • a. Maqom Khouf bagi orang yang hatinya memiliki rasa takut
  • b. Maqom Roja’ bagi orang yang hatinya punya pengharapan besar bisa wusul dan berhasil taqorrub kepada Alloh swt.
  • c. Maqom Qobdlu bagi orang arif yang mengharapkan sesuatu yang ditakuti atau khawatir tidak bisa lulus dan tidak bisa meningkat dari ahlul bidayah menuju ahlul isyroq dan tidak bisa meningkat dari ahlul isyroq menuju ahlun nihayah
  • d. Maqom Basthu bagi orang arif yang memiliki harapan besar untuk bisa meningkat dari ahlil bidayah bisa meningkat pada ahlul isyroq dan ahlul isyroq bisa meningkat pada ahlun nihayah

 

Orang yang masih dalam maqom qobdlu dan maqom basthu itu belum bisa menempuh pada maqom jam’i  ( kumpul ), dan masih dalam maqom firoq ( pisah ). Apabila ia sudah terlepas dari maqom qobdlu dan basthu maka ia akan naik ke maqom i’tidal dan ini disebut maqom jam’i, dan setelah maqom jam’i ini lalu naik lagi disebut maqom baqo’. Maqom jam’i ada dua yang pertama disebut maqom fana’ dan yang kedua naik lagi disebut maqom baqo’ ( firoq ba’da jam’i ).

Orang yang suluk dan wusul ( sampai ) kepada Alloh swt. itu kebanyakan melalui thoriqoh yang mana ia dibai’at oleh guru mursyid akan tetapi ada juga yang wusul tanpa guru yaitu orang majdub yang langsung ditarik oleh Alloh swt. Orang yang suluk itu dikatakan wusul apabila sudah sampai maqom ihsan, agama yang dibawa nabi itu mulai iman, islam dan ihsan. Sulit sampai maqom ihsan kalau tidak dibimbing oleh seorang guru mursyid, karena maqom ihsan itu dijelaskan nabi ketika ditanya malaikat jibril ” apa ihsan itu ?, ihsan adalah menyembah Alloh swt. seakan-akan melihat Allah swt.”. Kalimat “seakan-akan” disini digunakan karena yang melihat itu bukan mata telanjang melainkan yang melihat adalah mata hati dan dalam ilmu tashowwuf disebut ahlus syahadah ( orang yang diberi Alloh mata hatinya bisa melihat Alloh swt. ), ada juga maqom ihsan yang lebih rendah yaitu maqom muroqobah yaitu kita dalam beribadah tidak bisa seakan-akan melihat Alloh, akan tetapi hati kita mengetahui bahwa Alloh swt. selalu mengetahui kita. Dan orang yang sudah pada maqom muroqobah itu juga disebut wusul. Disini keberadaan guru sangatlah penting, karena kita belum bisa membedakan pengertian-pengertian yang datang ( warid ).

 

Sebab-sebab timbulnya / terjadinya Qobdlu dan basthu

 

Sifat Khouf dan Roja’ bagi seorang abid, murid dan arif permulaan itu bisa dilihat dari amalnya setiap hari, usahanya dalam beibadah dan tawakalnya kepada Alloh swt. Sedangkan bagi seorang arif ( baik bidayah, isyroq maupun nihayah ) terjadinya qobdlu dan basthu itu karena adanya warid yaitu suatu pengertian yang diletakkan Alloh swt. didalam hatinya seorang arif. Apabila warid yang datang kehati itu adalah sifat jamalnya Alloh swt. maka akan terjadi yang namanya basthu ( pengharapan yang sangat besar ), dan apabila warid yang datang kehati adalah sifat jalalnya Alloh swt. maka akan terjadi yang namanya qobdlu.

Sifat Jamal adalah sifat bagus yang dimiliki Allah SWT. Sifat ini apabila ada didalam hati orang, maka Allah tidak perduli terhadap keadaan seseorang tersebut, bila Alloh ingin memasukkan surga atau ingin menerima taubat seseorang, maka Alloh tidak perduli orang tersebut banyak amalnya atau banyak dosanya.

Ada sebuah cerita tentang sifat jamalnya Allah yang masuk dihati seorang pembunuh, yang sudah membunuh 99 orang. Membunuh adalah termasuk dosa besar, alangkah besarnya dosa orang itu karena telah membunuh 99 orang.

Pembunuh itu dimasuki sifat jamalnya Allah, di merasa jemu dan menyesal membunuh banyak orang. Dia ingin sekali bertaubat kepada Allah SWT.kemudian pembunuh itu datang ketempat suatu tempat ibadah dan bertanya kepada seorang pendeta. “saya sudah membunuh 99 orang, apakah kalau saya bertaubat dosa saya masih diterima oleh Allah SWT ?.” “itu sudah tidak diterima oleh Allah SWT. (jawab Roghib tadi)”. “kalau begitu sekalian saja kamu yang menjadi orang yang ke 100 dari orang yang saya bunuh”(kata pembunuh itu).

Setelah berkata demikian dia langsung mengeluarkan pedangnya, dan membunuh Roghib tersebut.

Karena dalam hatinya masih kuat untuk bertaubat, pembunuh itu terus berjalan untuk mencari orang yang mau menerima dirinya, suatu hari dia bertemu dengan seorang Ulama’, pembunuh itu berkata:

” Taubat saya apakah bisa diterima oleh Allah SWT “.

” Bisa ” (jawab ulama’ itu).

” Saya sudah membunuh 100 orang ” (kata pembunuh dengan suara yang lirih).

” Allah itu maha Pengampun dan maha Pemurah, Insya Allah taubat kamu akan diterima oleh Allah SWT”. seperti yang difirmankan Alloh dalam surat An Nisa’ Ayat 48,

{إِن الله لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذلِكَ لِمَنْ يَشاء…}

” Sudahlah, bertaubatlah..!!!, datangilah tempat yang suci!!!! , disanalah nanti tempat yang cocok buat kamu untuk bertaubat.” (lanjut ‘Ulama tadi).

Kemudian pembunuh itu menuruti anjuran-anjuran dari ‘Ulama’ itu, dengan berjalan kaki dia menyusuri jalan menuju tempat suci yang ditunjukkan oleh ‘Ulama’ tadi. Masih mendapat separuh perjalanan pos. nyawa pembunuh tadi dicabut oleh Allah SWT, dia mati pas ditengah-tengah antara ke tempat dia niat untuk taubat dan tempat yang suci untuk bertaubat.

Dikarenakan matinya ditengah-tengah, malaikat Rohmat dan malaikat Adzab saling berebut untuk mengambilnya.

“orang ini adalah bagianku, karena orang ini telah membunuh 100 orang memang dia sudah Niat untuk taubat, akan tetapi dia belum sampai pada tempatnya bertaubat.” (kata malaikat Adzab).

“bukan ini bagianku,” karena dia sudah Niat untuk taubat, buktinya dia sudah berjalan sampai separoh perjalanan, itu adalah perbuatan baik, dan itu bagianku. (kata malaikat Rahmat). 

Melihat kedua malaikat itu saling berebut Akhirnya Allah menurunkan malaikat  yang menjadi juru Hakim. Hakim itu sangat bijaksana, Hakim itu memberi keputusan untuk mrngukur jarak, antara tempat pembunuh itu mulai Niat bertaubat  sampai tempatnya mati. Dan dari tempatnya mati sampai tempat suci yang akan di gunakan untuk melakukan taubat. Ternyata Allah SWT memberi takdir lain, ternyata jaraknya lebih dekat menuju tempat untuk bertaubat, dan hanya terpaut satu jengkal saja. Akhirnya malaikat yang menjadi juru Hakim itu memutuskan itu adalah bagian dari malaikat Rahmat.

Dari sedikit cerita diatas merupakan sebuah pengertian adanya warid yang datang dihati seorang pembunuh. Warid yang datangnya dari sifat jamalnya Allah SWT , dan Allah mengampuni dosa-dosanya, walaupun dia sudah membunuh orang sebanyak 100 X.

Mengingat sifat jamalnya Allah SWT , itu kita selalu berharap selalu mendapat pengampunan Allah SWT. Karena dibanding dengan pembunuh dalam cerita itu kita masih lebih baik.

Begitu pula sebaliknya, apabila warid itu datang bersamaan dengan sifat jalalnya Allah SWT. Maka akan menjadikan orang itu sedih / takut dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT.

Di zaman Bani Isroil ada dua orang yang terkenal sholehnya yakni :

  • 1. Luqman Hakim.
  • 2. Bal’am bin Bauro’, Bal’am adalah saudaranya Luqman.

Keduanya ini termasuk orang yang hebat.

Bal’am terkenal dengan seorang yang alim yang ahli tirakat (riyadlo, ahli ibadah yang dekat dengan Allah SWT, sehingga do’a-do’anya selalu dikabulkan oleh Allah SWT.

Suatu hari Bal’am Bin Baoro’ kedatangan tamu orang kafir yang meminta do’a agar peperangannya dengan orang mukmin, dia bisa memenangkannya. Orang kafir itu merengek-rengek kepada Bal’am bagaimana supaya Bal’am mendo’akannya.

Orang kafir itu akhirnya mengeluarkan uang emas satu kantong (peti). Dan berkata: ” Uang ini saya berikan kepada kamu, asalkan kamu berdo’alah kepada Allah satu kalimat saja, untuk kemenangan ada dipihak kami “.

Bal’am manjawab :”Tidak saya tidak mau berdo’a untuk kamu”.

Ketika itu istri Bal’am mengintipnya dari balik jendela, istri Bal’am tertarik dengan uang yang dibawa orang kafir itu.

“Gimana itu suami saya disuruh berdo’a satu kalimat saja tidak mau ” Kata Si Istri di dalam hati.

Karena jengkel Istri Bal’am mamanggil suaminya..

” Mas Bal’am kesini dulu”

mandengar istrinya memanggil, Bal’am langsung mendatanginya. Bal’am terkejut, karena didapati istrinya dalam keadaan menangis terisak-isak.

“Ada apa ?, mengapa kamu menangis ? “. Tanya Bal’am.

“Anu, Masak disuruh berdo’a satu kalimat saja tidak mau, emas yang diberikan itu sangat banyak, bekerja mulai kecil hingga sekarang pun kita tidak mungkin bisa mendapatkannya, do’akanlah mas “. Kata Si Istri kepada Bal’am.

Mandengar perkataan Si Istri yang sambil menangis itu, Bal’am goyah hatinya, Bal’am lalu mau mendo’akan orang kafir itu. Ketika Bal’am berdo’a belum utuh satu kalimat, lidahnya ditarik sampai panjangnya mencapai pusar, Bal’am akhirnya mati dengan su’ul khotimah – naudzubillah min dzalik.

Begitulah kalau Allah sudah menurunkan sifat jalalnya, sifat memaksa Allah. Sifat agung llah. Allah tidak membutuhkan pertimbangan, Allah tidak perduli kepada siapa diturunkan, kalau Allah sudah menghendaki Allah tidak peduli pada amalan-amalan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Hal ini kalau kita ingat, kita masukkan didalam hati kita, kita takut kepada Allah SWT , kalau nanti kita diberi su’ul khotimah.

Bal’am saja yang ahli ibadah, do’anya selalu dikabulkan Allah, mati dengan su’ul khotimah. Kalau ini masuk dihati dan menimbulkan rasa takut kepada Allah itu adalah khauf.

Kita diingatkan pula dengan seorang yang ahli ibadah yang sangat hebat. Santrinya banyak, ada sekitar 6000 santri yang bisa terbang tanpa alat dan tanpa alat bantu yang lain. Dia hidup di zaman Nabi Isa As. Dia bernama Pendeta Barseso (Roghib Barseso). Suatu ketika Roghib Barseso digoda oleh Ifrit (syetan yang masih berpangkat rendah). Ifrit itu menjelma menjadi seorang santri yang giat beribadah. Saking giatnya, dia berada terus di tempat di mana Rohib itu beribadah, dan terus melakukan ibadah, melihat santri yang rajin beribadah itu, Rohib merasa heran dan tertarik untuk bertanya, karena santrinya ada yang lebih kuat beribadah dari pada dirinya. Santri (syetan yang menjelma) itu ditanya “Nak, kamu itu kok kuat sekali, ibadah terus kepada Allah SWT, sampai-sampai aku heran kepadamu ?”.

“Ya jelas kalah, mbah tidak ada apa-apanya dengan saya” jawab santri (syetan yang menjelma) dengan agak sombong dan menantang.

“apa resepnya nak ?” Tanya Rohib.

“saya adalah orang yang penuh dengan dosa, dosa-dosa besar apapun sudah pernah saya lakukan, mulai dari membunuh, berzina, minum minuman keras, apalagi dosa yang kecil-kecil, berbeda dengan mbah…kalau mbah Barseso kan mulai dari kecil sudah giat beribadah, jadi mbah tidak bisa menyesal dan tekun serta giat seperti saya, sekarang saya sudah bertaubat “. Kata Ifrit yang menjelma menjadi santri.

“Bagaimana kalau saya ingin seperti kamu, tekun, giat, betah dalam melakukan ibadah ?”. Tanya Roghib Barseso.

“Ya.. harus melakukan dosa-dosa”. Jawab santri jelmaan syetan.

“Dosa apa yang harus saya lakukan ?”. Tanya Roghib Barseso.

“berzina” jawabnya.

“tidak itu adalah dosa besar”

“kalau tidak mau ya .. membunuh saja, nanti setelah membunuhkan merasa menyesal, dan penyesalan itulah yang menjadikan giat beribadah”. Jawab syetan itu.

“tidak itu dosa besar “.

“kalau tidak mau membunuh, minum minuman keras saja” tawar syetan yang menjelma.

” Ya.. mungkin itu dosa yang agak kecil dibanding dengan zina dan membunuh “.

Setelah setuju dengan tawaran syetan yang menjelma menjadi santri itu, akhirnya Roghib Barseso diajak ke sebuah kedai / warung tempat orang minum minuman keras. Oleh syetan yang menjelma Rohib itu dicarikan warung yang pelayannya sangat cantik. Syetan yang menjelma itu mulai melakukan aksinya.

Dituangnya arak satu gelas kecil, terus diminum Rohib, setelah diminum dituangkan lagi. Sampai akhirnya Roghib Barseso mabuk berat. Dan dalam kondisi mabuk berat, melihat pelayan warung yang cantik itu, syahwatnya memuncak. Akhirnya pelayan cantik itu diseret kedalam kamar dan dizinai, setelah selesai zina, ada suaminya datang dan masuk kedalam kamar. Betapa terkejutnya Roghib Barseso itu. Karena khawatir ketahuan akhirnya laki-laki itu dipukul dengan kayu, dan setelah itu dia mati. Perempuan itu melihat Rohib membunuh . Si Rohib khawatir untuk disebar luaskan akhirnya perempuan itu pun juga dibunuhnya.

Merasa aksinya (syetan yang menjelma) itu berhasil dia keluar. Dan merubah penjelmaannya sebagai seorang petugas. Dia berteriak-teriak ” ada pembunuh – ada pembunuh “. Karena ada teriakan itu akhirnya masyarakat sekitar berkumpul dan menangkap pembunuh itu, dan masyarakat berkata ” membunuh hukumannya harus dibunuh”.

Kemudian Roghib Barseso itu disalip oleh masyarakat dan akan dihukum pancung. Setelah selesai disalip syetan (yang menjelma polisi itu, keluar dan berganti menjadi seorang algojo yang menbawa pedang.

Si Algojo berkata ” hai tuan Roghib, hidup dan matimu ada ditanganku, sekarang engkau pilih mati aku pancung atau pilih hidup”

“ya aku memilih hidup, kalau aku hidup aku akan bertaubat kepada Allah SWT “.

“engkau bisa hidup dan bebas Tuan Roghib asalkan engkau mau sujud kepadaku”

“bagaimana saya bisa sujud tuan algojo, posisi saya dalam keadaan disalip seperti ini”. Kata Roghib.

“tundukkan kepala saja, engkau niati sujud kepadaku”. Kata syetan yang menjelma menjadi algojo.

Karena ingin hidup dan mau bertaubat Roghib itu menuruti apa yang diperintahkan syetan itu, begitu menunduk malaikat Izrail mancabut nyawa Roghib itu. Dan Righib itu mati dalam keadaan su’ul khotimah.

Hikmah dari cerita itu adalah agar kita semua selalu berdo’a, mendekatkan diri kepada Allah, supaya kita nanti diberi khusnul khotimah. Amin..

Itulah keagungan dan kekuasaan Allah. Allah tidak memperdulikan amal-amal yang sudah dilakukan apabila Allah yang menghendaki su’ul khotimah.

Hal ini apabila masuk ke hati kita, akan tumbuh rasa khouf kepada Allah SWT. itulah sifat agung dari Alloh Ta’ala, apabila menghendaki apa saja, Alloh tidak memperdulikan dan tidak mempertimbangkan siapapun. Abu Hamid Al ghozali menggambarkan sifat ini dengan seekor Singa yang sedang lapar, Apabila sudah masuk kedalam rumah maka singa tersebut tidak memperdulikan siapun siapa yang ada didepannya akan diterkamnya.

Antara khouf dan roja’ itu haruslah berimbang, kalau lebih tinggi khoufnya akan menjadikan putus asa ( Ya’su ), Kalau lebih tinggi roja’nya akan menjadikan berani melakukan ma’siat ( sembrono). Antar khouf dan roja1′ harus berimbang.

 

Kesimpulanya

 

Qobdlu dan basthu ini terjadi Karena datangnya warid yang masuk didalam hati kita, besar dan tipisnya warid yang masuk, tergantung pada tebal dan tipisnya iman yang ada didalam hati, tebal dan tipisnya iman akan mempengaruhi amal Ibadah kita kepada Alloh Ta’ala. Lebih lebih amal yang berhububungan dengan harta benda, untuk memperjuangkan agama Alloh. Sebab kebanyakan orang itu selalu mengingat-ingat akan sulitnya dalam mencari harta benda.

Orang yang ahli Ma’rifat apabila masih mempuyai perasaan Qobdlu dan basthu, sedih dan gembira, lapang dan sempitnya hati, Ia belum sampai ke maqom Fana’. Karena dia masih memandang terhadap dirinya sendiri. Kalau memandang dirinya sudah tidak nampak yang nampak hanyalah Alloh maka, semua perasaan itu akan tiada. Kalau semua perasaan sudah sirna maka Ia sudah masuk ke maqom Fana’ atau disebut dengan maqom Jam’i ( Wahdatul wujud ).

Setelah orang ‘Arif itu melewati Maqom Jam’i, Ia akan melewati Maqom Baqo’, Yaitu memandang Makhluk dan memandang Alloh Tampak bersama, kalau Ia memandang pohon ia bisa melihat pohon itu dan nampak dihatinya akan Alloh yang menciptakan pohon tersebut. Maqom ini disebut juga dengan maqom I’tidal dalam istilah lain disebut dengan Ahlun Nihayah.

Semoga kita semua diberi kesabaran dalam menerima bala’ ( ujian dari Alloh dan dapat bersyukur atas Ni’mat Nya.


Kategori