Oleh: manto | 2 Maret 2009

SIFAT FAQOH MANUSIA

 

 

“فَاقَتُكَ لَكَ ذَاتِيَةٌ وَوُرُوْدُ اْلأَسْبَابِ مُذَكِّرَاتٌ لَكَ بِمَا خَفِيَ عَلَيْكَ مِنْهَا وَالْفَاقَةُ الذَّاتِيَةُ لاَتَرْفَعُهَا الْعَوَارِضُ.”

 

Sifat butuhmu kepada Alloh adalah sifat dzatiyah (sifat yang melekat pada diri yang asli kejadianya), dan datangnya sebab yang bermacam-macam itu sebagai pengingat tentang sesuatu yang samara dan sifat butuh yang dzatiyyah itu tidak dapat dihilangkan dengan perkara baru.”

 

            Dalam pembahasan sebelumnya nikmat dari Alloh itu ada dua macam, yaitu nikmatul ijad dan nikmatul imdad. Nikmat ijad adalah nikmat diwujudkannya makluk oleh Alloh. Nikmat ini diberikan oleh Alloh kepada semua makhluk baik manusia maupun hewan, manusia yang mukmin maupun yang kafir. Ketika manusia tidak mendapatkan nikmat ini, pasti manusia tidak akan wujud. Sedangkan Nikmatul Imdad adalah nikmat kelestarian hidup makhluk setelah diwujudkan Alloh. Nikmatul Imdad dibagi menjadi dua macam : pertama , nikmatul imdad yang dlohir ( jasmani), yaitu nikmad untuk kelestarikan wujudnya jasad yang diberikan oleh Alloh kepada seluruh mahluk seperti makan, minuman kesehatan, tempat tinggal, pakaian dan lain-lain. Nikmat ini selalu dan pasti dibutuhkan oleh manusia serta makhluk hidup yang lainnya, kedua, Nikmatul imdad yang bathin (rohani), yaitu nikmat yang khusus diberikan oleh Alloh kepada orang yang mukmin  untuk kelestarian rohnya diakhirat seperti iman, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ibadah dan kemakrifatan Ilahi.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa nikmad ijad maupun imdad adalah pemberian Alloh yang tidak dapat diciptakan manusia sendiri, melainkan pasti membutuhkan Alloh untuk kelestarian hidup didunia dan akhirat. Dengan kata lain, manusia memiliki sifat butuh (faqoh)  kepada Alloh Dzat yang Maha kuasa untuk menetapkan dan mencabutnya kembali segala sesuatu. Sifat butuh (faqoh) yang melekat pada diri manusia itu disebut dzatiyah, yaitu sifat asli yang tidak dapat dihilangkan dan pasti melekat pada diri manusia.

Kebanyakan manusia lupa bahwa, mareka memiliki sifat dzatiyah yang tidak dapat dihilangkan dari dirinya. Ketika mendapatkan awaridl (sesuatu yang baru) atau sesuatu yang diperoleh didunia yang bersifat sementara, seperti jabatan, kekayaan, kesehatan, kepandaian, kekuatan dan lain-lain, sehingga sifat dzatiyah yang berupa sifat butuh kepda Alloh menjadi samar dan tertutup oleh awaridl yang mereka peroleh didunia.

Ketika jabatan sudah diraih, kekayaan sudah ditangan, kesehatan dapat dinikmati dan semua keinginanya mudah dipenuhi, kebenyakan manusia merasa bahwa dirinya sudah tidak membutuhkan Alloh lagi dan berakibat kesombongan. Padahal sifat sombong (kibriya’) agung (‘udhoma’) dan sifat luhur (‘Ulya) adalah sifat Alloh yang tidak boleh dimiliki oleh selain Alloh.

Kesombongan itu pernah dimiliki oleh manusia yang bernama Namrud, dalam kisahnya ia adalah seorang raja yang hidup pada zaman Nabi Ibrahim a.s. Ia tidak mau beriman kepada Alloh dan Nabi Ibrahim a.s. sebagai rasul Alloh. Ia bahkan pernah berkata, “hai Ibrahim, suruhlah Tuhanmu untuk turun ke padang pasir dan berduel dengan saya“. Perkataan ini disebabkan oleh kekuatan yang dimiliki oleh raja Namrud sehingga memunculkan kesombongan.

Keinginanya untuk mengalahkan Alloh tidak hanya dilakukan dengan ucapan saja, bahkan ia wujudkan dengan perbuatan yaitu dengan membangun sebuah menara yang sangat tinggi sekiranya ia dapat menjangkau langit dan bertemu dengan tuhanya Nabi Ibrahim a.s. Setelah menara dibangun, ia naik sampai ke ujung menara sambil membawa panah, sesampainya di ujung menara ia melepaskan anak panahnya kelangit dengan maksud untuk memanah Tuhanya Nabi Ibrahim a.s.

Alloh menghendaki kekufuranya raja Namrud dengan memerintah malaikat untuk mengolesi ujung anak panah dengan darah. Malaikatpun bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan Alloh dan menjatuhkan anak panah tersebut ke bumi. Melihat anak panahnya berlumuran darah, Namrud sangat bangga dan gembira karena ia mengira bahwa anak panah itu mengenai “tubuh” Alloh. Merasa sudah berhasil Namrudpun berkata kepada Nabi Ibrahim, “lihatlah Ibrahim, Tuhanmu telah kena anak panahku dan pasti ia sudah mati“.

Sungguh malang nasib Namrud karena diakhir hidupnya ia harus merasakan sakit yang luar biasa sampai mengakibatkan kematianya. Rasa sakit itu disebabkan oleh seekor nyamuk yang hanya memiliki satu sayap. Atas perintah Alloh nyamuk tersebut masuk kedalam hidungnya Namrud, karena hidungnya kemasukan nyamuk Namrud bersin-bersin. Tidak hanya dihidung saja nyamuk terus masuk ke otak dan menggigitnya sehingga menimbulkan rasa sakit kepala yang luar biasa. Dalam keadaan seperti itu ia memerintah salah satu punggawa untuk memijat kepalanya yang sakit, semakin lama pijatan itu tidak terasa juga sehingga ia memerintah punggawanya untuk memukuli kepalanya dengan sandal sampai pada akhirnya ia menyuruh punggawanya untuk memukuli dengan batu yang menyebabkan ia mati dengan dihina oleh Alloh.         

Bebitu juga dengan Fir’aun, ia sombong karena selama hidupya ia tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, entah itu sakit kepala, otot bergerak (kedutan; jawa) demam tidak pernah sama sekali ia rasakan. Kerena tidak pernah sakit ia berani berkata “aku adalah tuhan kalian semua yang agung“.

Nama asli Fur’aun adalah Walid Bin Mus’ab. Mus’ab adalah seorang petani dan pengembala sapi yang hidup sederhana bersama dengan seorang istri. Sampai pada usia 170 tahun ia belum dikarunia seorang anak, padahal ia sangant menginginkannya, karena keinginan itu terlalu berlebihan sehingga membuatnya hasud (iri hati) kepada setiap orang yang mempunyai anak, sapi ternaknya pun ia hasudi, sapi peliharaannya yang akan melahirkan ia pukuli. Tanpa disangka-sangka atas izin Alloh sapi itu dapat berkata “wahai tuanku, Alloh akan menganugrahimu seorang anak laki-lak, akan tetapi bahan anak tersebut terbuat dari empat sudutnya neraka Jahannam.”

Setelah kejadian itu Mus’ab beranjak pulang sambil meningat perkataan sapi itu, sasampainya dirumah keanehanpun terjadi, ia tiba-tiba begitu bergairah ingin melakukan hubungan badan dengan istrinya yang sudah tua renta. Dari hubungan itu istrinyapun hamil. Sungguh malang nasib sang istri karena sang suami meninggal disaat ia hamil, sehingga jabang bayi itu terlahir dalam keadaan yatim dan diberi nama Walid.

Tahun berganti tahun, Walid tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan gagah, ia tidak mau meneruskan usaha orang tuanya, karena tidak mau meneruskan usaha ayahnya sang ibu menitipkannya kepada seorang pengusaha meubel (tempat kerajinan dari bahan baku kayu) untuk dipekerjakan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Walid memang pemuda yang cerdas dan cakap, keryanya sangat mengagumkan, ia dapat menarik simpati konsumen dan membuat meubel berkembang maju dengan pesat. Karena itu gaji yang ia terima lebih banyak dari pada pekerja yang lain. Dibalik kecerdasan itu ia memiliki dua kebiasan buruk yang tidak bisa dipisahkan dalam dirinya, yaitu mabuk dan berjudi.

Kabar kebiasaan Walid inipun akhirnya sampai ke telinga sang ibu, ia tidak menginginkan anaknya celaka dan melakukan hal buruk. Wlidpun dipanggil dan dinasehati “anakku ibu sangat bahagia bila kamu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, tapi ibu tidak suka jika kamu berjudi dan mabuk-mabukan!” walidpun menjawab “ibu, aku sungguh menolong nafsuku (Ummi inni ‘aunu nafsi)”. Karena jawaban Walid itulah sang ibu memanggilnya dengan ‘Aun yang didasarkan pada perkataan ‘Aunu nafsi dan menjadi namanya yang masyhur, secara otomatis panggilan Walid hilang dengan sendirinya dan berganti dengan nama ‘Aun.

Suatu saat ‘Aun mendapatkan uang yang banyak dari hasil pekerjaannya, dengan uang itu ia berjudi dan mabuk-mabukkan, kali ini keberuntungan tidak memihak pada ‘Aun ia kalah dan uangnya habis diatas meja judi, yang tersisa hanyalah pakaian yang menempel di tubuhnya. Berjudi adalah hal yang membuat orang ketagihan. ‘Aun berani memperteruhkan bajunya untuk berjudi dengan harapan ia dapat mengambil kembali uangnya. Keberuntungan masih tetap tidak memihak pada dirinya, sehingga pakaiannya harus dilepas untuk dipertaruhkan dan yang tersisa hanyalah pakaian dan kaos dalamnya saja, iapun mempertaruhkan kaos dan celana dalamnya diatas meja judi, ia kalah lagi. Akhirnya ia harus melepas pakainnya sehingga tidak ada sehelai benang yang menutupi tubuhnya, karena merasa malu ia terpaksa lari menuju tempat yang sepi. para penjudi dan semua orang yang melihat keadaan ‘Aun bersorak sambil berteriak “farra aun (Aun lari !)” sejak saat itulah ia dipanggil dengan Fir’aun yang bersal dari kata-kata farra ‘aun.

Fir’aun memang memiliki jiwa pejuang, disaat tidak mempunyai pakaian dan uang ia tidak berputus asa dalam mempertahankan hidupnya, dengan bermodalkan otak ia menutupi tubuhnya dengan dedaunan dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia menunggui pemakaman umum, ia meminta uang secara paksa kepada setiap pengantar jenazah, apabila tidak mau memberinya uang maka pukulan fur’aun yang akan berbicara.

Suatu saat ia mendapati para pengantaar jenazah yang tidak mau memberi uang sehingga membuat Fir’aun naik pitam dan hendak menghajar salah satu keluarga raja sehingga iapun diringkus dan demasukkan ke dalam penjara.

Setelah masa tahanan habis Fir’aun dibebaskan, tetapi penjara tidak membuatnya jera bahkan semakin menjadikannya perampok yang ganas, ia tidak segan-segan membunuh korbannya, karena perbuatan itulah ia sering keluar masuk penjara.

Suatu ketika ia akan ditangkap polisi kerajaan, ia melawannya dengan melompat ke atas kuda yang dinaiki polisi sambil menodongkan pisau, polisi itu tidak dapat berkutik karena ia harus memikirkan keselamatan nyawanya, akhirnya ia memberi sebuah tawaran kepada fir’aun “jika kamu tidak membunuhku, maka kamu akan kujadikan sebagai anak angkatku”. Tanpa pikir panjang Fir’aun menjawab “baiklah.” Pada saat itu yang berada dalam pikiran Fir’aun hanyalah uang yang banyak jika ia menjadi anak angkatnya tanpa harus bersusaha payah. Setelah beberapa hari dari peristiwa tersebut, ayah angkat Fir’aun meniggal dunia, secara otomatis hartanya di warisi oleh Fir’aun untuk mabuk dan berjudi tetap menempel padanya sehingga harta warisanpun habis di meja judi.

Pada masa itu kerajaan mesir berada di bawah kekuasaan Raja Sinjab[1] yang sedang bermusuhan dengan raja-raja di luar kota Mesir, permusuhan itu membuat hati sang raja gelisah dan merasa hidupnya terancam kematian. Oleh karena itu sang raja membutuhkan seorang pengawal yang tangguh dan berani mati terpilihlah Fir’aun sebagai pengawal sang raja.

Fir’aun memanglah memiliki otak yang cerdas, ia langsung memulai tugasnya dengan membangun pos keamanan di tempat yang setrategis, semua pengguna jalan pasti melewati pos yang di buat oleh Fir’aun, sehingga ia dapat mengetahui masuknya mata-mata kerajaan lain.

Setelah di angkatnya Fir’aun menjadi penjaga dan pengawal kerajaan, Sang Raja sedikit merasa tentram dan dapat tidur nyenyak, akan tetapi pada suatu malam Sang Raja bermimpi melihat seekor kalajengking besar berwarna hitam mengkilat kebiru-biruan, menuju kearah kerajaan, hendak menyengatnya. Mimpi seperti itu sang raja terbangun dan langsung pergi ke ahli nujum[2] untuk menanyakan arti mimpinya, ia memakai pakaian kebesaran lengkap dengan mahkotanya kemudian bergegas menuju kediaman ahli nujum tanpa di ikuti pengawal. Suasana malam yang sepi dilalui Sang Raja tanpa rasa takut sedikitpun karena memang semua pengguna jalan pasti melewatinya.

Dalam pos itu Fir’aun melihat seorang pejalan kaki, ia berjaga kemudian memanggilnya. Betapa terkejutnya ketika siapa yang memanggilnya, ternyata ia adalah Sang Raja. Seiring dengan itu setan merasuki jiwa Fir’aun serta adanya dorongan nafsu kekuasaan yang ada pada dirinya sehingga membuat ia berkeinginan menghabisi Sang Raja.

Dengan basa-basi ia menyapa sang Raja.

Ampun Baginda, hendak kemana Baginda malam-malam begini?”

“Aku mau menemui ahli nujum, karena malam ini aku bermimpi buruk” jawab sang Raja.

duduklah dahulu tuan Raja, biar pengawal yang memanggilnya” rayu Fir’aun.

Sang Rajapun menyetujui usul Fir’aun, ketika ia duduk, pada saat itu juga Fir’aun melaksanakan niat jahatnya, ia memenggal kepala  sang Raja dari belakang. Setelah itu ia memakai pakain kebesaran yang dipakai sang Raja beserta mahkotanya, kemudian manuju istana kerajaan. Cahaya pagi terbit di ufuk timur pertanda cahaya baru akan dimulai hari itu. Cahaya itu memang tampak baru kerajaan mesir, namun bukan cahaya yang memberi ketenangan tetapi cahaya kehancuran bagi negeri mesir sebab saat itu sang Raja baru, yaitu Fir’aun menampakkan diri di hadapan seluruh menteri dan pasukan kerajaan, dengan duduk di atas singgasana kerajaan ia menyatakan diri sebagai Raja baru Bagi rakyat mesir. Ia berkata

barang siapa yang mengakui saya sebaagi raja, maka akan kuberi harta dan barang siapa yang tidak mengakui saya sebagai raja maka akan aku penggal sekarang juga“.

            Dengan iming-iming kekayaan tersebut banyak menteri tergiur olehnya dan orang yang pertama kali mengakui Fir’aun sebagai raja adalah Haman dan Qorun.

            Demikian cerita tentang kelahiran sampai naiknya Fir’aun keatas tahta kerajaan Mesir. Dari cerita tersebut banyak hikmah yang dapat dipetik, dipilah antara yang baik dan yang buruk, diantaranya :

  • a. Sifat buruk orang tua akan menurun pada anak, seperti sifat buruk Mus’ab yang menurun pada Fur’aun. Oleh karenanya apabila orang tua mengetahui anaknya nakal maka hendaknya tidak sepontan menyalahkan si anak, karena ada kemungkinan orang tualah yang bersalah ketika menanam bibit pada istrinya.
  • b. Agar anak memiliki budi pekerti yang baik maka hendaknya orang tua malakukan taubat terlebih dahulu sebelum menenam bibit dengan harapan tidak terjadi penurunan sifat buruk orang tua pada anak.
  • c. Dunia (harta, tahta dan wanita) merupakan sumber kehancuran karena orang yang menginginkanya akan melakukan apa saja untuk meraihnya tanpa menghiraukan halal dan haram. Selain itu ketika seseorang telah mendapatkannya, ia akan menjadi sombong sebagaimana yang terjadi pada Fir’aun.
  • d. Kesehatan, kekuatan, harta dan tahta dapat menjadi sebab lupa kepada Alloh ketika milihatnya tanpa melihat siapa yang memberi.
  • e. Orang yang dlolim dan sombong akan diadzab oleh Alloh.

 

Selain cerita Fir’aun juga terdapat cerita dalam pewayangan yang intinya sama, bahwa sifat orang tua akan menurun pada anak, yaitu cerita tentang doso muko. Alkisah, Begawan[3] Wisrowo memiliki anak bernama Dono Pati, seorang perjaka yang telah nalendro (menjadi raja) dikerajaan lokapolo. Suatu saat Begawan Wisrowo menasehatinya ;

putraku, kamu adalah seorang raja yang tentunya kurang pantas jika dirimu dalam keadaan perjada, maka sebaiknya dirimu segera menikah”

kanjeng romo, sesungguhnya ananda telah memiliki pilihan tapi ananda hawatir kenjeng romo tidak menghendakinya” jawab Dono pati.

siapakah ia” tanyanya

Dewi Sukesi putri Sumali, raja ing Ngalengko Dirojo” Dono pati menjawab.

putraku, aku adalah Begawan, mana mungkin aku menjadi besan seorang Butho (raksasa)?” jawab sang Romo.

bila memang romo tidak merestuinya maka aku bersumpah sedanguneng gesang sampe pejah kulo mboten bade polokromo (selama hidup sampai mati saya tidak akan menikah)” jawab sang anak.

baiklah putraku, kita akan pergi kesana untuk melamarnya” jawab sang romo dengan bijaksana.

Akhirnya Begawan Wisrowo pergi menemui raja Sumali dan mengungkapkan maksud kedatangan mereka. Sang raksasa itu ternyata menerima lamaran Begawan Wisrowo tapi dengan sayarat

putraku akan kunikahkan dengan seorang yang memiliki ilmu sastro jendro hayuningrat pangruwating diyu

Begawan wisrowo menyanggupinya saat itu juga, berkat kesaktian ilmu itu, Begawan yang asalnya tua dan beruk rupa menjadi pemuda tampan, akhirnya mereka diizinkan bertemu Dewi Sukesi, namun yang terjadi keluar dugaan, ternyata dewi Sukesi jatuh cinta kepada Begawan Wisrowo, begitu juga halnya dengan sang Begawan. Tanpa rasa malu ia menerima cinta Dewi Sukesi dan merekapun melangsungkan pernikahan tanpa menghiraukan anaknya.

Besarnya nafsu cinta Dewi Sukesi kepada sang Begawan tidak tertahankan lagi sehingga terjadilah hubungan suami istri, padalah sang Begawan belum bertaubat atas dosanya mengawini calon istri putranya. Dari hubungan badan itulah lahir seorang butho (raksasa) yang berkepala sepuluh, melihat keadaan anaknya seperti itu, mereka memberi nama Dasa Muka (sepuluh wajah), nama itu diberikan sesuai dengan wujudnya, selain itu sepuluh wajah juga melambangkan tingkah lakunya yang selalu melakukan kejelekan dan tanpa rasa malu (rai gedeg, jawa) seperti menculik Dewi Sinta istri Rama Wijaya dan banyak lagi wanita-wanita yang menjadi korban kejahatannya.

Hikmah dari cerita tersebut adalah;

  • 1. bahwa sifat orang tua akan menurun kepada anak
  • 2. orang tua yang akan menanam bibit pada sang istri hendaknya bertaubat terlebih dahulu.
  • 3. taubat yang baik adalah dengan membaca surat yasin, sholat hajat dan berbagai wiridan yang baik kemudian baru menanam bibit.

 

ARTI PENARIKAN NIKMAT BAGI ORANG AWAM

            Alloh memberi keistemewaan kepada orang Arif yaitu ia dapat melihat Alloh dengan mata hatinya, disamping itu setiap nafasnya selalu ingat kepada Alloh SWT. Walaupun demikian mereka tetaplah manusia biasa yang pasti memiliki sifat faqoh yang daztiyah. ketika ia diberi nikmat imdad (nikmat untuk kelestarian wujud) oleh Alloh seperti kekayaan, kesehatan, kekuatan dan lain sebagainya, itu semua tidak membuatnya lupa bahwa mereka memiliki sifat asli yang berupa sifat faqoh (butuh pada Alloh) karena mereka selalu ingat kepada Alloh disetiap nafasnya.

Adapun asbabul ittirodl yang diberikan kepada mereka, berupa kemiskinan, sakit dan lain-lain bertujuan untuk :

  1. menambah jelas dan memantabkan tanda-tanda ubudiyyahnya (penghambaan diri) pada Alloh karena cobaab itu menyebabkannya semakin bergantung dan mendekat kepada Alloh SWT.
  2. Menambah banyak pahalanya, sebab pahala ibadah itu diukur dengan kepayahan yang melakukan.
  3. Menambah derajatnya yang luhur disisi Alloh, sebab ia ridlo dan pasrah kepada Alloh atas cobaan yang dialaminya.

 

Ibnu Rumi merupakan salah satu dari wali Alloh yang mendapatkan ujian berupa kemiskinan[4]. Suatu ketika di Baghdad terjadi paceklik sehingga selama tiga hari Ibnu Rumi sekeluarga tidak makan dan minum, keadaan itu membuat sang istri memberanikan diri berkata padanya.

anak pamanku kita memang kuat menahan lapar, tapi bagaimana dengan anak-anak kita?”

istrku, apa pendapatmu?” Tanya Ibnu Rumi kepada istri

“suamiku, bekerjalah Walaupun upah yang engkau dapatkan hanya setengah dirham, asalkan cukup untuk menghidupi anak-anak” usul sang istri.

Ibnu Rumi pun pergi ke Suqul banain[5]. Ditengah perjalanan ia melewati sebuah masjid, ia berkeinginan untuk masuk dan beribadah di dalamnya. Sejak sholat subuh sampai saat itu ia masih dalam keadaan suci, setelah sampai di dalam masjid ia langsung sholat, sebelum sholat ia berkata “ya Alloh, hamba tidak bekerja kepada siapapun juga, hamba hanya bekerja kepadamu” lalu ia sholat sunnah yang mana setiap satu rokaat selama satu malam, beliau holat sampai waktu maghrib tiba. Setiap rokaat beliau membaca Al-fatihah satu kali dan surat Alikhlas 11.000 kali.

Setelah selesai sholat maghrib ia berkeinginan pulang namun dalam hatinya ada kekhawatiran akan pertanyaan istrinya tentang hasil kerjanya, karena pada saat itu diperkirakan anak dan istrinya belum tidur, akhirnya ia mengurungkan niatnya. Dalam hati ia berkata “ya Alloh, hamba akan beribadah sampai akhir isyak sehingga ketika saya pulang nanti istri dan anak saya sudah tidur“. Pada akhir isyak kira-kira pukul tiga malam ia beranjak pulang karena biasanya pada jam sekian semua keluarganya sudah tidur.

Sesampainya didepan rumah ia sangat terkejut mengetahui keadaan didalam rumah yang terlihat sangat gembira dengan sesekali terdengar suara canda tawa anak-anaknya, ia menangis dan berkata dalam hatinya “ya Alloh, apa yang terjadi? Padahal ketika aku berangkat tadi mereka dalam keadaan kelaparan” ia kemudian mengetuk pintu.

Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam, semoga Alloh memberikan kebarokahan kepadamu dan semoga Alloh memberikan kekenyangan kepadamu seperi yang telah engkau berikan kepada kami” jawab sang istri.

apa yang terjadi?” Tanya Ibnu Rumi agak kaget

“tadi menjelang maghrib anak-anak hampir saja mati karena menahan lapar kemudian ada seorang pemuda yang membawa dua buah bokor (talam, jawa), ia bertanya apakah benar ini rumah Ibnu Rumi?’ saya jawab ‘iya’. Ia menyampaikan salam dan berpesan untukmu dari tuan tempatmu bekerja, agar engkau memperbanyak dan menambah kerja maka, pasti ongkosnya akan ditambah. setelah berkata seperti itu ia menyerahkan kedua bokor untuk disampaikan kepadamu dan ia langsung pamit pulang. Setelah itu saya buka kedua bokor itu, ternyata satu bokor berisi satu dinar dan satunya lagi berisi makanan yang langsung kami makan dan sekarang makanlah” cerita sang istri menuturkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

maaf, saya masih punya tanggungan sholat, nanti saja setelah sholat, saya akan makan” jawah Ibnu Rumi, kemudian ia melakukan shlolat sampai akhirnya ia tertidur dan mempi bertemu Alloh sang kekasih sejati.

Asslamu’alaika Ibnu Rumi, bagaimana hubungan kita, sudah baikkah?” Tanya Alloh.

sangat baik Gusti, karena hamba hanya ibadah sedikit tetapi balasanya sangat banyak” jawab Ibnu Rumi.

“Ibnu Rumi, tambahlah kerjamu karena aku pasti akan menambah ongkosnya, saat ini aku naikkan derajatmu 10.000 derajat dan aku ampuni 10.000 kesalahan apakah engkau sudah ridlo, wahai Ibnu Rumi?”

hamba sudah ridlo Gusti”

“sekarang apa permintanmu?”

“ya Alloh, hamba mohon engkau sudi menerima semua amal hamba dan mengampuni semua kesalahan hamba, kemudian ambilah roh hamba karena hamba sangat ingin beremu dengan-Mu”

“tidak Ibu Rumi, ajal semua makhluk sudah aku tetapkan, tidak akan kukurangi dan aku tambah. Namun perlu enkau ketahui bahwa ajalmu tinggal 9 hari lagi”

“kalau begitu hamba mohon diberi selau ingat, butuh dan tawakal kepada-Mu di hari yang tersisa ini”

Ketika terbayang Ibnu Rumi mencirtakan mimpi itu kepada istrinya. Mendengar hal itu istrinya menangis.

Dipagi harinya Ibnu Rumi membelanjakan uang yang ada untuk kebutuhan keluarganya dengan membeli budak, rumah lengkap dengan perabotanya dan lainsebagainya agar ketika ditinggal mati nanti seluruh keluarganya hidup dengan tentram dan sejahtera. Ia bersilaturohim dengan saudara dan tetangganya untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang ia sengaja maupun tidak.

Pada hari yang kesembilan ia berangkat kemasjid untuk beribadah dan sholat di mihrob (tempat imam) sampai ajal menjemputnya. Beliau disemayamkan di Kuniyya’ salah satu desa di daerah Baghdad.

Dari semua mutiara hikmah dan cerita yang tertulis semoga menjadikan pengingat bahwa manusia pasti memiliki sifat membutuhkan kepada Alloh SWT.

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Raja Sinjab adalah putra dari Raja Rouyan, Raja Rouyan adalah Raja yang memiliki perdana menteri bernama Kitfirul Aziz, yaitu perdana menteri yang beristrikan Zulaikha, gadis yang di lamar oleh Raja Rouyan akan tetapi memilih Kitfirul Aziz, namun pada akhirnya gadis itu jatuh cinta pada Nabi Yusuf AS.

[2] Ahli ilmu perbintangan yang dapat meramal mimpi.

[3] Begawan yaitu orang yang pandai dalam bidang agama, hidupnya menyendiri tanpa mengikuti politik kenegaraan dan semua yang diucapkan berasal dari tuhan (songko wisi’ing dewo) serta memiliki cantrik (santri). Pendeto adalah orang yang pandai dalam hal agama ia mengikuti politik kenegaraan sehingga sifat-sifatnya banyak terpengaruh oleh situasi orang sekelilingnya, jika baik, maka ia akan menjadi baik, begitu juga sebaliknya.

[4] Nama asli Ibnu Rumi adalah Muhammad bin Ishaq Ar-Rumi, beliau tinggal di Baghdad bersama seorang istri yang masih saudara sepupunya sendiri (anak paman) beserta anak-anaknya. Beliau hidup setelah masa Syaikh Abdul Qodir Jilani, terpaut satu periode denganSyakh Ali Abu Hasan As Syadzili. Bliau wafat pada tahun 672 H.

[5] suqul banain adalah pasar tempat mangkal para kuli dan tukang bangunan yang biasanya orang butuh akan datang dan memilih tukang.


Kategori