Oleh: manto | 2 Maret 2009

Sedih dan malas dalam menjalankan ibadah

Sedih dan malas dalam menjalankan ibadah

اَلْحَزَنَ عَلَى فُقْدَانِ الطَّاعَةِ مَعَ عَدَمِ النُّهُوْضِ إِلَيْهَا مِنْ عَلاَمَاتِ اْلإِغْتِرَارِ  0( الحكم  63 )

Sedih( menyesal ) dengan sebab kehilangan ibadah ( ketaatan kepada Alloh ), akan tetapi tidak disertai dengan semangat ( malas ) untuk melaksanakannya, adalah merupakan salah satu dari tanda-tanda tertipu (terperdaya oleh setan ).

 

          Pada umumya, orang yang tekun beribadah itu akan merasa sedih ( menyesal ) jika sampai ketinggalan ( teledor ) ibadahnya, lain halnya dengan orang yang bukan ahli ibadah, dia sama sekali tidak akan merasa sedih apabila ketinggalan ibadah dan tidak merasa kehilangan sesuatu apapun.

          Kesedihan seperti ini, adalah kesedihan yang bodoh dan palsu. Ia merasa sedih akan tetapi Ia malas. Ia merasa rugi, tetapi ia lewatkan kesempatan. Ia merasa tertinggal tetapi Ia tidak mau mengejar. Itu merupakan kemalasan yang sangat luar biasa, Hamba seperti ini tidak berusaha mencari dan mempergunakan kesempatan dengan sungguh, ia selalu terbelenggu oleh rasa senang  dan larut mengikuti panggilan hawa nafsunya. Ia sebenarnya ingin bangkit namun ia masih berada dalam mimpi pulasnya. Untuk menghapus kemalasan seperti gambaran diatas, maka seorang hamba harus memiliki semangat keimanan yang mampu menerangi kemalasan dan kesenangan nafsunya.

          Suatu hari sayyidina Umar bin khottob r.a sibuk memeriksa kebun kurmanya, Beliau sangat kagum dengan kesuburan tanah dan kelebatan buahnya, sehingga Beliau ketinggalan jama’ah sholat ashar,  karna itu beliau merasa susah dan sedih. Kesedihan seperti beliau itulah  sedih yang sebenarnya, bukan sedih yang palsu.  Rasa sedih yang mendalam itu Beliau buktikan dan mendorongnya  untuk mewakafkan kebun kurmanya kepada fakir miskin, sebagai ganti dari  jama’ah sholat ‘ashar yang tertinggal. Hal ini merupakan contoh sedih yang sebenarnya ( al hazan as shodiq ).

          Adapun sedih ( menyesal tertinggal suatu ibadah ) yang tidak disertai dengan semangat untuk beribadah, adalah merupakan salah satu dari tanda-tanda tertipu dan terperdaya oleh syetan .

          Orang yang bukan ahli ibadah tidak akan bersedih ( menyesal ) karena tertinggal atau kehilangan  sebuah ibadah,  akan tetapi apabila kehilangan dunia, misalnya; uang Rp. 5000,00 ( lima ribu rupiah ) saja, Ia sudah merasa susah dan sedih. Orang yang semacam ini adalah orang yang tertipu oleh kehidupan dunia. Dalam hal ini, Alloh swt mengingat kepada kita dalam Al-Qur’an :

 

فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ ُالْحَيَاةُ الدُّنْياَ  ( لقمان 33)

” maka janganlah kamu sekali-sekali kehidupan dunia memperdaykan kamu sekalian ( menipumu ) “

 

 Termasuk golongan orang yang tertipu adalah orang yang selalu tersibukan mencari dunia, sehingga ibadahnya terbengkalai, Alloh swt berfirman :

 

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا لاّ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَ لآَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ ج وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ ( المنافقون 9)

 melalaikan kamu dari ingat kepada Alloh swt. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. ”

 

          Yang dimaksud dengan dzikir kepada Alloh swt adalah selalu ingat kepada Alloh swt kapan dan dimanapun tempatnya: ketika sholat, puasa ataupun ketika stirahat dan jangan sampai kehidupan duniawi ini menjadilkan kita lupa untuk beribadah kepada Alloh swt. Supaya kelak di akhirat, kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Mari kita renungkan dan menginsafi Pepenget berikut:

” Rugi nyang ndunyo ora sepira(Rugi di dunia tidakseberapa,

” Rugi nyang Akhirat ora ono ente’e”Rugi di akhirat tiadabatasnya

” Ora ono pungkasane  “Tiada akhirnya

” Menowo kadu,g ciloko “Bila Terlanjur celaka,

” Ciloko sak lawase “.Maka celaka selamanya)

 

          Pada umumnya  keteledoran dalam beribadah disebabkan terlalu tersibukkan dalam mencari harta benda ( duniawi ). Hal ini bukan berarti bekerja  itu tidak diperbolehkan, bahkan diperintahkan oleh Alloh swt.  Hanya saja dunia itu harus diorientasikan atau diarahkan untuk kepentingan akhirat. Sebab hidup didunia ini tujuannya adalah untuk beribadah, aritmya menghambakan diri dengan segala yang kita punya dan mampu, baik berupa tenaga, jiwa, dan pikiran untuk kepentingan Alloh. Dengan demikian, tidak dibenarkan dan salah besar jika kesibukan dunia, yang hanya sebagai alat atau wasilah untuk sampai ke akhirat itu justru menggeser hal yang inti yaitu ibadah, yang merupakan tujuan pokok (inti) kita. Bagaiamanapun ibadah itu perlu biaya, dan biaya itu diperoleh dari bekerja, akan tetapi jangan sampai karena pekerjaan itu membuat kita lupa akan tugas-tugas akhirat. Dunia hanyalah tempat untuk menanam modal akhirat  :   { اَلدُّنْيَا مَزْرَعَةُ اْلآَخِرَة }  

          Barang siapa bersedih dan menyesal sebab meninggalkan atau tertinggal ibadah tetapi kesusahannya itu tidak mendorong dirinya untuk cepat-cepat melakukan ibadah , maka sedih (menyesal) yang semacam itu adalah sedih palsu dan merupakan tipuan syetan belaka. Karena sedih tersebut hanya untuk (agar) tidak menjatuhkan martabatnya di mata orang lain. Rosululloh SAW. Bersabda:  

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ كُلَّ قَلْبٍ حَزِيْنٍ ( شرح الحكم 63 )

 

“Sesungguhnya Allah SWT. menyukai setiap hati yang selalu sedih”.

 

          Orang yang hatinya selalu sedih itu terpuji, jika sedihnya itu dalam rangka koreksi diri dan timbul karena memikirkan kekurangan-kekurangnnya  dalam  beribadah. Karena, orang yang selalu sedih dengan penuh kesungguhan itu akan menumbuhkan semangat untuk kemudian segera  melaksanakan (mengkodlo’ ) ibadah yang telah ditinggalkannya .

Contoh seorang siswa yang punya kebiasaan istiqomah belajar selama dua jam setiap harinya. Satu ketika, Ibunya minta diantar untuk menghadiri undangan temannya di tetangga desa, akhirnya waktunya tersita dan tidak bisa belajar seperti biasanya. Dia menyayangkan hal itu dan hatinya susah.  Jika kesusahannya itu  adalah betul-betul (shodiq), maka tentu keesokan harinya ia akan mendobel, belajar selama 4 jam (yang 2 jam sebagai ganti yang kemarin) . Dan apabila ternyata ia tidak mengkodlo’nya maka susahnya adalah susah yang palsu (kadzib).  Abu Ali Ad-Daqqok mengilustrasikan betapa   kekuatan “sedih” itu berpotensi (mampu) menggerakkan diri seseorang, ia berkata :

 

اَلْحَزَنُ يَقْطَعُ مِنْ طَرِيْقِ اللهِ فِيْ شَهْرٍ مَا لاَ يَقْطَعُهُ مَنْ فَقَدَ حَزَنُهُ فِيْ سِنِيْنَ  ( الحكم 63 )

“Orang sedih ( menyesal ) itu mampu menempuh perjalanan menuju Allah SWT. hanya dalam waktu sebulan saja,yang tidak dapat ditempuh oleh orang yang tidak sedih (menyesal ) dengan  menempuhnya selama bertahun-tahun “.

 

          Secara hirarki, dalam Dunia Tasawwuf, perjalanan spiritual manusia menuju Allah SWT. itu akan menapaki jenjang tahapan-tahapan sebagai berikut :

1.Tahapan ‘abid yaitu orang yang beribadah kepada Allah SWT. dengan tujuan ingin masuk surga dan selamat dari siksa neraka

2.Tahapan mukhlis yaitu orang yang beribadah hanya semata-mata karena Allah SWT. bukan karena ingin masuk surga ataupun selamat dari neraka.

3.Tahapan muhib yaitu orang yang cinta kepad Allah SWT.

4.Tahapan ‘Arif yaitu orang yang ma’rifat kepada Allah SWT.

 

Dalam  perjalanan tahap muhib menuju ke tahapan ‘Arif, seseorang akan mengalami empat macam tahapan tajally :1)Tajalli ‘af’al,  2)Tajalli sifat , 3)Tajalli Asma’ , 4)Tajali Dzat.

Apabila ia telah sampai pada tahapan tajalli dzat, maka berarti ia tengah berada pada maqom ‘Arifin (ahli ma’rifat). itulah yang dimaksud dengan perjalanan menuju Allah SWT.

          Perjalanan menuju Allah SWT. itu memang membutuhkan waktu yang sangat lama sekali. Bergantung kadar serta usaha seseorang dalam penyucian hatinya. Karena beragamnya kondisi atau watak hati manusia, Imam Ibnu ‘Athoillah menggambarkan hati itu seperti “Tanah” :

  • 1. Adakalanya tanah yang digali sedikit saja, sudah bisa keluar mata airya. Ini adalah gambaran bagi hati seorang yang bersih. Mereka, misalnya, yang membiasakan membaca Sholawat Syadziliyyah saja, sudah nampak (keluar) ilmu laduniyyah nya ( ilmu yang langsung dari Allah SWT. secara spontanitas, tanpa belajar )
  • 2. Adakalanya tanah yang digali sampai dalam, tapi tetap saja tidak keluar mata airnya, karena kondisi tanahnya yang tandus , gersang dan berbatu. Hal ini adalah gambaran hati yang kurang bersih. Walaupun, misalnya, sudah nggetu sholawat Syadziliyyah, bahkan telah dibai’at Thoriqoh Syadziliyyah dan Thoriqoh Qodiriyyah, akan tetapi belum juga keluar mata airnya atau Hikmah, karena kurang mem- perhatikan masalah “hati”.

 

Tanah yang tandus, sebagaimana hati kita umumnya, membutuhkan siraman dan harus diisi dengan (mendatangkan) air yang berasal dari sumber mata air yang lain, agar  tetap terawat subur.  Sebab apabila tidak diisi, maka tanah tersebut akan gersang selamanya. Begitu pula hati orang yang kurang bersih,  harus diisi  dengan cara mengikuti pengajian, majlis ta’lim dan siraman rohani lainnya. Sebab apabila tidak demikian, maka perjalannya menuju Allah SWT. akan sulit, bahkan tersesat. Disinilah pentingnya peranan seorang Guru Mursyid, yang melek, awas  “mata” (bathin) nya, untuk membimbing kita dalam perjalanan spiritual thoriqoh agar tidak tersesat. Dan berhati-hatilah apabila akan mengisi. Carilah sumber air yang bersih, jangan sampai diisi dengan air kotor dan keruh. Begitu pula dalam mengisi hati, lihatlah dulu siapa yang mengaji dan apa aliranya, apabila aliranya adalah aliran bida’ (ahli bid’ah), maka tinggalkanlah. sebab itu akan menambah rusaknya hati. Pilihlah aliran yang mengikuti Ahlis Sunnah Wal Jama’ah. Juga lihat dulu kitab apa yang dikajinya, kitab Mujarrobat-kah ? atau kitab-kitab kema’rifatan yang tidak mu’tabar ( kitab-kitab yang kebenaran ajarannya tidak diakui oleh para ‘Ulama ), sehingga perjalanan kita nanti akan tersesat bahkan bisa membuat gila atau stres.

     Ketahuilah, Bahwa wushul atau suluk, merambah perjalanan menuju Allah SWT. itu ada ilmunya dan harus dibimbing oleh seorang Guru. Kebanyakan orang yang stres  dalam mencari  kema’rifatan, disebabakan oleh tidak adanya guru yang membimbing ( Mursyid Kamil ). Atau terkadang punya guru akan tetapi salah niat.

Orang yang menempuh perjalanan menuju Allah SWT. juga akan menghadapi tahapan-tahapan nafsu dan tahapan-tahapan maqom. Dalam duni tasawwuf, ada tujuh macam nafsu dengan berbagai ciri masing-masing, tahapan nafsu yang paling bawah adalah Nafsu Ammarah. Tanda atau perangai (watak kepribadian) orang yang bernafsu ini banyak sekali diantaranya adalah sifat kikir, riya’, pemarah, dsb. Kesemua sifat yang tercela (al-Akhlaq al-Madzmumah) itu harus diperangi dan di-riyadloh-i (dilatih). Dalam istilah ilmu tasawwuf proses ini dinamakan “Takholli”, yaitu merubah sifat-sifat tercela menjadi sifat yang terpuji atau al-Akhlaq al-Mahmudah. Sehingga yang asalnya kikir bisa menjadi dermawan, yang riya’ menjadi ikhlas, yang asal pemarah menjadi penyabar, yang asalnya sombong menjadi tawadlu’. Kesemuanya itu harus dilatih denga sungguh-sungguh untuk  dapat  meningkat ke tahapan nafsu selanjutnya yang lebih tinggi yaitu Nafsu Lawwamah . Begitupula halnya  sifat-sifat nafsu lawwamah yang buruk itu harus dilatih agar menjadi sifat yang terpuji sehingga meningkat lagi menuju Nafsu Muthma’innah dan begitu seterusnya sampai ketingkat Nafsu Rodliyah atau Mardliyah.  

Di sinilah masa-masa yang sangat berat dan berbahaya, dimana orang yang tengah mecapai Nafsu Mulhimah itu  diberi “keawasan” (Mukasyafah), sehingga ia tahu hal-hal yang bersifat ghoib, tahu kehendak hati orang lain, serta menyibak sesuatu yang akan terjadi. Itu semua adalah hal-hal yang sangat rahasia dan sangat berbahaya, seseorang tidak boleh sembrono dan semakin meniti diri dengan misalnya; konsultasi kepada Guru Ahli yang lebih mendalami hal ini, sebab keawasan-keawasan  (pengertian yang masuk ke dalam hati ) itu adakalanya :

  • 1. Pengertian yang berasal dari Allah SWT. yang disebut Warid Robbany.
  • 2. Pengertian yang berasal dari Malaikat yang disebut Warid Malaki .
  • 3. Pengertian yang berasal dari Syaiton yang disebut Warid Syaitoni.
  • 4. Pengertian yang berasal dari Jin yang disebut dengan Warid Jinny.
  • 5. Pengertian yang berasal dari Nafsu yang disebut dengan Warid Nafsy.

 

Bahaya diatas karena, orang yang pada tahap Nafsu Muthmainnah itu belum bisa membedakan antara warid-warid yang datang, apakah Warid Robbany, Malaki, Syaitoni, Jinni, atau Nafsy. Sehingga orang tersebut tidak diperbolehksn untuk menggunakan pengertian (warid) yang diberikan kepadanya sebelum dicocokkan dengan syari’at (Al_Qur’an dan Al-Hadits ).  Hingga terdapat kesesuaian, maka diperboleh untuk digunakan .

Orang yang sedih hanya dalam jangka waktu 1 bulan saja menempuh perjalanannya orang yang tidak pernah sedih ( menuju Allah ) selama bertahun-tahun. Orang yang susah itu lebih cepat daripada orang yang tidak susah sebab kesusahanynya itu akan membuat nya lebih bersemangat dalam menempuh perjalanan . Misalnya, orang yang melakukan perjalanan menuju ke Jombang dengan jalan kaki antara orang yang sedih dengan orang yang tidak sedih, itu lebih cepat orang yang sedih karena orang yang tidak sedih itu akan berjalan dengan biasa dan santai , sebab tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk lebih cepat sapai ke Jombang . Berbeda dengan orang yang sedih, mungkin dikarenakan mendengar khabar bahwa ibunya meninggal dunia, maka orang tersebutakan tergesa-gesa dan tidak akan terpengaruh oleh segala sesuatu yang ditemuinya di tengah perjalanan . Begitu juga perjalanan menuju Allah SWT. antara orang yang susah dengan orang yang tidak pernah susah itu akan lebih bersemangat dan lebih cepat orang yang susah dan orang yang tidak susah .

Jadi, inti pengajian ini adalah mengingatkan kita semua agar :

  • 1. Merasa susah, sedih dan menyesal apabila sampai ketinggalan ibadah.
  • 2. punya semangat unyuk menutupi ( mengkodllo’ ) ibadah yang telah yang telah ditinggalakan.
  • 3. Memohon kepada Allah SWT. agar selalu diberi semengat untuk beribadah sebab apapun dan bagaimanapun usaha kita apabilaa tidak diberi Allah SWT. maka hal itu tidak akan pernah terjadi

 

سَمِعَتْ رَابِعَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا رَجُلاً يَقُوْلُ وَاحَزَنَاهْ فَقَالَتْ قُلْ وَا قِلَّةَ حَزَنَاهْ لَوْ كُنْتَ مَحْزُوْنًا لمَ ْيَتَهَيَّأْ لَكَ أَنْ تَتَنَفَّسْ ( الحكم  ج : 1 ص : 63)

” Robi’ah Al-dawiyyah  seorang sufi wanita yang terkenal, Ia mendengar ada seorang pria berkata : ” Alangkah sediya diriku “. Robi’ah berkata : ” Jangan berkata begitu , tetapi katakanlah : “Alangkh sedikitnya rasa sedihku , maka engkau tidak akan punya kesempatan untuk bersenang-senang “.

          Susah yang dimaksud di sini adalah sedihh yang timbul arena ketelodoran di dalam beribadah bukan sedih karena memikirkan masalah duniawi, sedih karena memikirkan duniawi itu tidak diperbolehkan, Memang benar ada dosa-ddsa yang tidak bisa dilebur apapun kecuali dengan kesedihan sebab mencari nafkah untuk keluarga (anak dan istri ) dengan catatan, adanya keikhlasan di dalam hati, sedih di situ adalah sedih sebab kesulitan bukan sedih yang disertai dengan penyesalan.


Kategori

%d blogger menyukai ini: