Oleh: manto | 2 Maret 2009

KENIKMATAN YANG SEMPURNA

KENIKMATAN YANG SEMPURNA

 

مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ اَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَة.ً خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ

“Kapan kamu sudah diberi kenikmatan oleh Alloh, bisa melakukan taat  dan diberi kaya oleh Alloh jauh dari taat”.

“Tahulah kamu kalau Alloh sudah memberi kamu kenikmatan dhohir dan bathin yang sempurna”.

 

Kadang-kadang kita itu sudah diberi kenikmatan yang sempurna, tetapi belum merasa sempurna, kadang-kadang diberi kenikmatan yang belum sampurna tetapi merasa sudah sempurna. Kenikmatan-kenikmatan yang sempurna itu adalah kenikmatan yang menjurus kepada ubudiyyah (ibadah), kita biasanya merasa diberi nikmat, kalau uangnya banyak, “kalau uangnya banyak semua keinginan bisa tercapai, seperti bisa membuat rumah, bisa membeli mobil. Apalagi sekarang ini musimnya hujan uang, kalau dapat uang 1 millyar, 2 milyar, 500 juta, itu dikatakan kenikmatan, semuanya itu bukan kenikmatan, itu malah sebuah ujian yang besar dari Alloh swt.

Kenikmatan yang hakiki itu adalah kenikmatan yang menjurus kepada ubudiyyah kepada Alloh swt, itu kenikmatan yang besar dan sempurna.

 Kenikmatan taat itu apa ? yaitu kenikmatan apabila kita dapat melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi  larangan-Nya, seperti kita diberi kenikmatan oleh Alloh swt dapat mengaji dengan istiqomah, itu merupakan suatu kenikmatan yang sangat besar, karena satu macam Istiqomah dari sebuah ibadah itu lebih baik dari pada 2000 karomah. Karomah itu ialah sesuatu yang membedai (menyalahi) adat (kebiasaan), misalnya ; ada orang tangannya dapat mengeluarkan api, tikar digelar dipakai terbang,  seperti yang dilakukan Joko Tarub, bisa terbang di angkasa. Jumlah karomah 2000, ,jika dibanding dengan kita bisa mengaji secara istiqomah itu tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, jangan merasa susah ketika kita sudah lama mengaji tapi belum bisa melihat malaikat, merasa hatinya belum ma’rifat ( awas ), kekuburan belum pernah ketemu arwah dan lain sebagainya. Satu bidang ngaji yang istiqomah, membaca Al-Qur’an yang istiqomah, wiridan yang istiqomah, itu lebih bagus dari pada 2000 karomah, kenapa lebih utama ? Sebab pada saat kita mengerjakan suatu ibadah dengan istiqomah, itu berarti kita telah melaksanakan tuntutan Alloh yang dibebankan kepada kita semua. Ketika kita  semua dituntut oleh Alloh, diperintah Alloh untuk istiqomah, ternyata kita kok bisa mengerjakannya, itu berarti kita telah melaksanakan apa yang dikehendaki Alloh. Adapun karomah itu adalah tuntutan nafsu kita kepada Alloh. Semua keinginan kita  untuk mengetahui Alam Qubur, Alam Malakut Langit, Alam Malakut Bumi, itu merupakan keinginannya nafsu kita, hal itu bukanlah yang dikehendaki oleh Alloh, sebab yang dikehendaki Alloh adalah kita mampu istiqomah. Oleh karena itu “sedikit tetapi istiqomah itu lebih baik dari pada banyak tetapi tidak istiqomah.”           

Sesuatu yang sedikit tapi istiqomah itu akan meninggalkan bekas/kesan. Imam Al- Ghozali menggambarkan “ada air satu drum disiramkan langsung ke batu bata, memang  bisa bersih tetapi hanya sebentar saja, sebab ketika ada angin dan kena debu, maka bekasnya tidak akan ada (kotor lagi), berbeda dengan air satu drum yang dilubangi sebesar jarum, maka airnya akan menetes terus dan lama dari lubang itu, batu batapun akan  menjadi berlubang karena terkena tetesan air itu, hal itu menunjukkan ada bekasnya. Begitu pula halnya dengan ibadah, ibadah itu bisa memberi bekas di dalam hati, jika dikerjakan dengan istiqomah (terus menerus). Apabila seorang hamba  sudah istiqomah dalam melaksanakan tuntutan Alloh, biasanya Alloh akan menganugerahkan karomah  padanya (jika seorang wali) dan maunah (jika bukan seorang wali).

            Taat yang dimaksud disini adalah melaksanakan perintah  Alloh dan meninggalkan larangan-Nya secara Dhohir (lahir), Contohnya melaksanakan perintah seperti; kita mengaji, sholat jama’ah, melaksanakan amal jariyah, shodaqoh dan lain sebagainya, sedangkan contoh meninggalkan larangan sepertri; tidak meminum-minuman keras, tidak menggunakan narkoba, tidak judi, tidak menggunjing orang lain (ngrasani), tidak membunuh dan lain sebagainya. Semua contoh diatas adalah taat secara lahir.

            Adapun taat secara bathin adalah bergantung hanya kepada Alloh dan tidak bergantung kepada amal didalam menempuh cita-cita. Lantas jika seorang hamba berada pada derajat abror, apa yang dicita-citakannya (مطلوب) ? Yang dicita-citakan orang dalam derajat Abror adalah :

1. Selamat dari api neraka

2. Masuk surga

Abror adalah orang yang banyak ibadahnya  secara lahiriyah.

Adapun pengertian dari kalimat غِنَى بِهِ عَنْهَا adalah bergantungnya seorang hamba hanya kepada  Alloh dengan tidak bergantung kepada taatnya. Jika kita ingin selamat dari api neraka jangan bergantung pada sholat kita, sholat kita semua itu masih ada cacatnya, entah itu kurang sempurna syarat rukunnya, atau kurang ingat kepada Alloh (khusu‘), atau pun kemasukan riya’ (pamer), sum’ah, dll. Tetapi bukan berarti kita tidak mengerjakan sholat, maka dari itu seharusnya kita tetap mengaji, sholat jama’ah, wiridan secara istiqomah. Sekalipun begitu jangan sekali-kali bergantung kepada amal, akan tetapi bergantunglah hanya kepada pertolongan Alloh swt. Seperti dalam do’a “Ya Alloh, saya mohon selamat dari api neraka, saya hanya bergantung pada rahmat-Mu, ya Alloh saya tidak bergantung kepada amal saya, amal saya banyak cacatnya, banyak penyakitnya, ya Alloh saya tidak ber-gantung kepada amal saya, saya hanya bergantung pada-Mu, hanya rahmat-Mu”.

Begitu juga do’a minta surga.

“ya Alloh, masukkan saya ke surga, saya hanya berdo’a kepda-Mu, saya tidak bergantung amal saya.

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سُخْطِكَ وَالنَّارِ

“ya Alloh, sesungguhnya saya meminta ridlo-Mu dan surga dan berlindung (hanya) kepada-Mu dari marah-Mu dan selamat dari api neraka”.

 

Jadi, kita bergantung hanya kepada Alloh swt bukan kepada amal, sekalipun amal kita istiqomah. Karena kita semua tidak punya kemampuan dan kekuatan لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاََّ بِاللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ (baca dan resapi maknanya dengan hati).

Kita bisa beribadah istiqomah itu bukan daya dan kekuatan kita, tapi karena pertolongan Alloh swt, kita tidak bisa apa-apa jika tidak diberi pertolongan Alloh swt, contohnya : “orang-orang yang berdekatan dengan majlis ta’lim dan kuat badannya, ekonominya cukup, tapi tidak bisa menghadiri pengajian, tapi mereka yang bermukim cukup jauh dari majlis ta’lim dapat menghadirinya. Contoh diatas menunjukkan segala sesuatu itu butuh pertolongan Alloh swt”.

            Menjauhi maksiat itu juga sangat sulit, seseorang yang pintar dan alimpun kadang-kadang bisa tergelincir dalam kemaksiatan. Apalagi di zaman sekarang ini, pengaruh media masa dan televisi menambah sulitnya kita meningggalkan maksiat, jadi sekalipun kita sudah mengerjakan perintah Alloh swt dan sudah menjauhi larangan-Nya, itu pun kita tidak boleh bergantung kepada hal itu, tetapi hanya bergantung kepada perolongan Alloh swt.

            Dunia itu terdiri dari harta, kedudukan, pengaruh. Dan itu semua menipu, tipuannya sangat besar. Kita sibuk cari uang akhirnya lupa shalat jama’ah, berbakti  pada orang tua dan ibadah-lainnya lainnya. Begitu pula halnya makanan dan minuman, kadang kelihatan lezat dan nikmat tapi dibalik itu bisa menyebabkan berbagai macam penyakit jika dikonsumsi, seperti  penyakit darah tinggi, kolesterol, diabetes dll.

            Dunia itu berlari. Contohnya kita memgang uang sekarang, namun sebentar saja uang yang kita pegang akan/pasti berpindah tangan. Dunia juga sifatnya hanya lewat. Apabila kita semua tertipu harta, maka  akibatnya kita akan menjadi malas untuk beribadah kepada Alloh swt.

            Jadi (bagi maqom abror) apabila ingin selamat dari neraka dan masuk surga jangan bergantung kepada amal-amal kamu, tapi bergantunglah hanya kepada Alloh swt. Apabila Alloh swt sudah memberikan / menganugerahkan kenikmatan lahir (taat) dan dalam hati merasa hanya bergantung kepada Allah, maka hamba itu sudah diberi kesempurnaan nikmat lahir dan bathin.

            Jangan kita terbujuk atau tertarik dan kagum kepada dunia. Nabi Muhammad saw diperintah Alloh swt untuk jangan sampai terbujuk, tertarik dan kagum terhadap dunia. Kita harus bersyukur terhadap apa yang telah diberikan Allah kepada kita semua (nikmat dhohir dan bathin).

            Nilai satu sayap nyamuk itu lebih berharga dihadapan Allah daripada dunia. Dunia itu tidak ada nilainya. Nilai yang paling mahal, berharga, dan paling sempurna adalah iman, islam dan taqwa kepada Allah.

            Menyelamatkan dari neraka dan memasukkan kedalam surga sekali lagi bukan karena amal seorang hamba, akan tetapi karena rahmat Allah semata-mata. Adapun amal-amal hanya sebagai علامات atau اسباب. Asbab (sebab) itu bukanlah مؤخر . asbab tidak bisa menciptakan, tapi Alloh lah yang menciptakan. Contohnya kita menyimpan sepeda motor, selamatnya sepeda motor dari pencuria (dicuri maling) itu bukanlah karena kunci tapi Allah, kunci hanyalah sebabnya. Begitu halnya seseorang menjadi  pintar itu bukan karena rajin atau hafalannya. Oleh karena itu belajar dan hafalanlah dengan sungguh-sungguh. Adapun untuk keberhasilan ilmu menangislah (meminta) kepada Allah. Begitu halnya seorang pedagang memperoleh keuntungan bukanlah dari toko atau perusahaannya, tapi yang memberikan keuntungan adalah Allah swt.

            Sabda Nabi “sebaik-baik rizqi adalah pertanian.” Karena lewat pertanian, seorang petani itu lebih berserah diri kepada Allah (tawakkal). Petani lebih tawakkal daripada pedagang.

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ اْلاَخِرَةِ  نَزِدْ لَهُ فِيْ حَرْثِهْ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنْ نَصِيبْ (الشرى 20)

Barang siapa yang menghendaki keuntungan (tanaman)

di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya.

Dan barang siapa menghendaki keuntungan (tanaman) di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia. Dan nanti di akhirat tidak mendapatkan apa-apa (Q.S. As-Syuuro ; 20)

 

وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَا اِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ( آل عمران  185 )

Artinya:  kehidupan dunia ini hanya tipuanbelaka.

 

اَلدُّنْيَا تَغُوْرُ وَتَمُوْرُ وَتَفُوْرُ

Artinya: Dunia itu pembohong / penipu (tipuan), berlari, hanya lewat saja.

 

Zaman akhir sudah seperti ini oleh karena itu, marilah kita saling berbagi do’a semoga kita semua tidak tergoda oleh dunia.

 


Kategori