Oleh: manto | 2 Maret 2009

KEDUDUKAN HAMBA DISISI ALLOH

KEDUDUKAN HAMBA DISISI ALLOH

 

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيْمَا ذَا يُقِيْمُكَ

“Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu disisi Allah, maka perhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu.”

 

Hikmah di atas merupakan sebuah gambaran untuk mengetahui kedudukan kita disisi Allah swt. Untuk mengetahui kedudukan kita di nanti (akhirat),dapat kita perhatikan dan kita timbang dimana kita ditempatkan oleh Allah di dunia ini. kedudukan kita di dunia merupakan sebuah cerminan akan kedudukan kita di sisi Allah swt kelak di akhirat. Artinya, dengan memperhatikan amal – amal yang kita lakukan di dunia,  merupakan cara  mengetahui kedudukan kita di akhirat. Amal setiap orang berbeda – beda. Tingkatan – tingkatan amal itu pun juga bermacam – macam.

.

orang islam dapat di golongkan menjadi dua golongan yaitu : “‘Ammah dan  Khossoh”.

 ‘Ammah ialah orang yang amalnya dapat dilihat dan diukur dengan cara memandang amal-amal lahiriahnya ( di dunia ), apakah ternasuk amal taat ataukah amal maksiat. dengan cara memperhatikan dan mengukur amalnya ketika di dunia, Orang ‘Ammah dapat mengetahui apakah besok di akhirat termasuk orang yang celaka dan masuk neraka, ataukah termasuk orang yang selamat dan masuk surga, Jika amal yang dikerjakan adalah amal ketaatan maka itu pertanda kelak di akhirat menjadi orang yang selamat dan masuk surga (Min Ahlis Sa’adah). Begitu juga sebaliknya jika yang dikerjakan di dunia adalah amal kemaksiatan, maka itu pertanda kelak di akhirat me,jadi orang yangcelaka dan masuk neraka  (Min Ahlis Saqamah).

Amal taat adalah perbuatan atau amal-amal yang diridlo’i oleh Allah Swt, dengan menjalankan perintah-perintah Alloh swt. dan meninggalkan hal-hal yang dilarang  yang bisa menjadikan Allah swt murka dan benci.

Contoh Menjalankan Amal-amal yang diperintahkan itu seperti : mengaji, sholat berjama’ah, menghadiri undangan, ta’ziyah ( kita ada waktu dan tidak ada udzur), menyayangi orang miskin, menyantuni anak yatim, bershodaqoh (baik dengan ilmu, harta atau kekuatan). sebagaimana sabda Nabi :

 

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلْيَتَصَدَّقْ من مَالِهِ, وَمَنْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ فَلْيَتَصَدَّقْ من عِلْمِهِ, وَمَنْ كَانَ لَهُ قُوَّةٌ فَلْيَتَصَدَّقْ من قُوَّتِهِ  (رواه ابن مردويةجامع العلوم والحكم ج : 1  ص : 234

barang siapa mempunyai harta maka bershodaqohlah dengan hartanya itu, barang siapa mempunyai ilmu maka bershodaqohlah dengan ilmunya itu dan barang siapa mempunyai kekuatan maka bershodaqohlah dengan kekuatannya itu”

.

Termasuk amal ta’at juga adalah birrul walidain yaitu mengikuti segala keinginginan dan harapan kedua orang tua kecuali hal-hal maksiat ( durhaka kepada Alloh swt. ), mendermakan hartanya kepada orang tua.

Amal maksiat adalah Amal-amal atau hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah Swt, dengan meninggalkan hal-hal yang diperintahkan Alloh swt., misalnya: tidak mau mengaji, tidak mau berjama’ah, tidak mau ta’ziyah (padahal ada waktu dan tidak adanya udzur), menyakiti orang tua, menuntut dan membentaknya,dan menerjang larangan-larangan Alloh Swt. misalnya: minum-minuman keras, judi, bermain gitar (hal-hal yang tidak ada manfaatnya / Tala’ub).

Apabila manusia melakukan amal ta’at dan terus menerus melakukan sampai mati, maka manusaia akan mendapatkan Husnul Khotimah atau sebaliknya, manusia melakukan maksiat (larangan-larangan) sampai mati, maka manusia tersebut akan menemui kecelakaan Su’ul khotimah. yang lebih berbahaya lagi, adalah, jika ada orang yang perbuatanya ta’at tetapi menjelang akhir hayatnya dia mati dengan Su’ul Khotimah, seperti sabda Nabi,saw

 

فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لِيَعْمَلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى لاَ يَكُوْنَ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لِيَعْمَلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُنْ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ  فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري  في صحيح البخاري)

 

Banyak orang yang amalnya ahli surga, tapi karena kurang kira-kira sejengkal saja dari hayatnya ia melakukan ma’siat sehingga ia mati dengan Su’ul khotimah, ada juga orang yang perbuatanya jelek, tapi kurang dari sejengkal umurnya ia melakukan taat kepada Allah sehingga ia mati Husnul Khotimah”.

 

Hadist yang disampaikan oleh Nabi Saw di atas  jarang sekali terjadi dibanding dengan kebanyakan yang terjadi, oleh karena itu sangat penting sekali kita untuk selalu  berdo’a dan memohon husnul khotimah kepada Alloh Swt:

اَللَّهُمَّ أَتِنْيِ حُسْنَ اْلخَاتِمَةِ

Artinya : ” Ya Allah berikan aku akhiran yang baik”

serta berusaha dan berikhtiyar untuk mendapatkannya dengan sekuat tenaga.

Pada waktu itu Sayyidina Ali di sisi Rosululloh saw. sayyidina Ali bertanya kepada beliau “Apakah  tidak sebaiknya kita menunggu takdir saja, dari pada kita nanti melakukan kebaikan tapi akhirnya jelek “, kemudian Rosulloh bersabda  :

إِعْمَلُوْا فَكُلّ ٌمُيَسّرَ ٌلِماَ خُلِقَ لَهُ

Artinya : ” Beramallah kalian karena setiap sesuatu itu, akan dipermudah untuk apa dia diciptakan”

Arti dari   إِعْمَلُوْا فَكُلّ ٌمُيَسّر ٌلِماَ خُلِقَ لَهُ  adalah : orang-orang yang ditakdirkan oleh Alloh Swt sebagai ahli surga, orang-orang tersebut oleh Allah Swt diberi kemudahan dalam beramal ibadah, sesuai dengan ridlo-Nya dan akhirnya orang-orang tersebut masuk surga, dan begitu  sebaliknya orang-orang yang ditakdirkan oleh Allah Swt sebagai ahli neraka, dalam kehidupan, mereka lebih berani dan mudah menerjang larangan-larangan Alloh Swt dan akhirnya masuk neraka. Oleh karena itu janganlah kita menunggu takdir saja, karena taqdir Alloh Swt tidak ada yang mengetahui kecuali Alloh Swt sendiri.

 

AL-KHOSSOH

 Orang-orang yang beribadah kepada Alloh Swt itu terbagi menjadi dua golongan besar yaitu golongan Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah) dan golongan  Abror.

Didalam Golongan Muqorrobin,  terdapat dua derjat ( maqom ) yaitu : Muhibbin dan ‘Arifin, kebanyakan ibadahnya Golongan Muqorrobin ini, tidak tampak pada lahirnya, akan tetapi Golongan Muqorrobin ini selalu munajat ( berdialoq dengan Alloh Swt ), selalu menghambakan dirinya kepada Allah Swt didalam hatinya,

 Golongan Muqorrobin ini disebut dengan istilah “khosshoh”

            Didalam golongan Abror terdapat satu derajat (maqom) yaitu derajat (maqom)  ‘Abidin ( orang yang Ahli dan Giat beribadah). Golongan ini cenderung pada golongan Ammah, berada jauh di bawah   Khossoh ( golongan Muqorrobin ).

 golongan Abror banyak menampilkan ibadah lahiriyah, dan niatnya memang sudah ikhlas karena Allah Swt, akan tetapi dorongan amal ibadahnya masih bersifat pribadi. Misalnya : ingin selamat dari neraka, masuk surga, mendapatkan bidadari, keniatannya ini belum seratus persen penuh karena Allah Swt.     

Golongan Abror ini dapat meningkatkan derajatnya, sampai taraf (derajat) yang bena-benar Mukhlisin melalui jenjang latihan-latihan, misalnya : dalam praktik dzikir Saat lisanya melafadkan kalimat thoyyibah لآ إله إلا الله      di dalam hatinya menyatakan   لاَمَعْبُوْدَ إِلاَّالله, yang berarti di dalam kalimat-kalimat thoyyibah itu baru berisi tentang peniadaan sesuatu yang disembah kecuali Allah Swt, seperti ; bulan, bintang, patung, api dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu adalah makhluk yang dipertuhankan bukan Tuhan yang sebenarnya.

Kemudian meningkat lagi dengan mengganti “Bunyi Hati” yang sebelumnya  berbunyiلاَمَعْبُوْدَ إِلاَّالله menjadi لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّاللهُ Dalam kondisi ini kadang seorang Abror belum sepenuhnya murni karena Allah Swt, karena motivasi dan dorongan jiwa amalnya, masih didominasi oleh kepentingan pribadinya di akhirat, (seperti yang telah disebutkan di atas) belum sampai pada Allah semata, sehingga seorang Abror tersebut belum dianggap sebagai Kholison Mukhlison  ( ikhlasnya belum sempurna ), dan hal semacam ini sudah diterima oleh Allah Swt. . Pada kondisi ini sering terjadi kesalahan yang fatal, dimana seorang abror yang Abidin dalam amal ibadahnya, banyak dipengaruhi oleh dorongan duniawi, serta masih bertujuan demi kepentingan pribadinya, tampak secara lahir dia ibadah, akan tetapi dihatinya hanya ada masalah duniawi, golongan inilah yang dalam Tasawuf disebut Halikin (orang yang rusak ibadahnya karena tujuannya masih melenceng) atau disebut juga dengan Ghofilin (orang yang lupa; akan tujuannya yaitu Allah Swt).  Maka lanjutkan dan isilah dzikir   لآ إله إلا اللهdengan   لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّاللهُ yang benar-benar murni demi Allah Swt dan karena Allah Swt semata, dengan demikian seorang Abror meningkat dan berada pada maqom Mukhlisin (orang yang membersihkan ibadahnya dari hal- hal yang bersifat duniawi).

Selanjutnya seorang Abror yang sudah berhasil mencapai tingkat Mukhlishin, dapat meningkat ke-maqom Muqorrobin: yang didalamnya ada dua tingkatan: Muhibbin dan ‘Arifin), dengan terlebih dahulu melalui tahap Mukasyafah: tersingkapnya tabir gaib).

 Dalam perjalanan tersebut diatas ini, seperti yang pernah dialami oleh syaikh Makinuddin dan ki Ageng Tarub yang bernama asli : Sayyid Ibrahim Bin Maulana Malik Ibrahim beliau diuji dan diperlihatkan oleh Alloh pada Alam Jabarut.

Didalam alam jabarut terdapat dua alam yaitu Alam Barzah dan Alam Malakut, yang disebut Alam barzah yaitu  Alam dimana penghuninya dapat melihat alam gaib sekaligus alam musyahadah / dunia) dan yang disebut Alam Malakut Alam  yang yang dihuni oleh para malaikat, bidadari, taman-taman indah, nikmat-nikmat surga yang akan diberikan, termasuk juga arwah manusia.( jasadnya terdiri dari unsur alam musyahadah dan alam ghoib ). Alam malakut juga tidak dapat dibuktikan dengan indera, seperti halnya  “rasa”. Rasa juga tidak dapat dicium oleh indera pencium.

Sedangkan bagi kalangan kita orang ‘Ammah mungkin pada saat berdzikir pernah mengalami dan “ditemui” seperti: anjing, dan ditemui orang-orang mulya seperti Kyai,Sunan/ Wali dan seterusnya. Pada kondisi seperti ini, apapun yang kita alami dan kita jumpai,kita harus syukur dengan cara tidak menceritakan pengalaman itu kepada orang lain, Firman Allah dalam Al Qur’an :

 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَ نَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْد     (سورة إبراهم : 7)

Artinya : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari

 (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”

 

Dan jangan kita hiraukan hal tersebut karena barangkali semua itu hanyalah tipuan syetan belaka. Apalagi kita sampai larut kedalam lamunan, mengingat-ingat kembali tentang apa-apa   yang sudah kita jumpai didalam dzikir. sehingga kita menjadi lupa dan menghentikan bacaan atau dzikir. Pada saat kondisi seperti ini, bermacam-macam ujian akan terus bermunculan, maka kita harus memalingkan hati kita dari semua yang bersifat Aghyar (selain Allah), dan menghadapkan hati dengan Dzikir La Mahbuba illallah: (tidak ada yang kucintai kecuali Allah)  untuk terus meningkat dan mencapai pintu maqom Muhibbin.

Dicontohkan pengalaman As Syaih Abu Yazid Al Bushtomi: pada saat Beliau sholat, Beliau diperlihatkan oleh Alloh Swt dengan Alam malakut bumi tingkat pertama, ke-dua, ke- tiga sampai tingkt ke-tuju, setelah itu Beliau diperlihatkan Alam malakut langit tingkat pertama, ke-dua, ke-tiga sampai tinngkat ke-tuju, sampai akhirnya Beliau diperlihatkan bawah ‘Arsy, setelah itu Beliau dipanggil oleh Alloh Swt. Dan Beliau ditanya oleh Alloh Swt  Bagaimana ? apa engkau suka ? Apakah engkau ingin yang lebih menakjubkan lagi ?, Beliau menjawab : Aku tidak ingin apapun, lalu Alloh bertanya : lalu apa yang engkau inginkan ? Beliau menjawab : aku hanya ingin satu yaitu engkau yaa Alloh.   

Dari contoh diatas, menjadi jelas bagi kita betapa besar godaan seorang Muhibbin dan untuk tidak terkecoh oleh goda’an-goda’an aghyar ( selain Alloh ). hanya tertuju pada satu titik yaitu Alloh Swt yang selalu dicintai.

Inilah usahanya seorang abror  dalam  mencapai tingkat / derajat Muqorrobin, dan masih ada satu tingkat lagi yang lebih tinngi yaitu ‘Arifin ( orang yang ma’rifat kepada Alloh ).

Dalam perjalanan dari tingkat Muhibbin menuju tingkat ‘Arifin terdapat dua kondisi dimana sorang ‘Arif pada saat melihat Alloh ( dengaan mata hati )

Adakalanya dia fana’  yaitu makhluk telah sirna, apapun tidak tampak dari pandangannya bahkan dirinya sendiripun menjadi sirna, yang tampak hanyalah Alloh Swt saja.

Adakalanya dia netral atau baqo’ artinya pada saat yang sama dia memandang makhluk dan dia juga dapat melihat Alloh  Swt.

KESIMPULAN :

Seperti yang telah disebutkan dalam kata Hikmah, “Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu disisi Allah, Maka perhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu” itu artinya Barang siapa yang ingin mengetahui seberapa agung derajatnya dihadapan Allah; apakah termasuk Golongan Khossoh ataukah ‘Ammah, Maka hendaknya amal-amalnya diperhatikan seberapa angung kedudukan Allah dihatinya.

Jika kualitas amal ibadah kita seperti : sholat, haji, shodaqoh dan yang lainnya itu sudah murni hanya karena Allah Swt semata, dan dalam melafalkan لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ     itu sudah ikhlas dan demi mengagungkan Allah Swt, maka itu berarti kedudukan Allah Swt adalah agung dihati, dengan demikian, kita sudah termasuk golongan Muqorrobin. Atau jika amal kita masih dipengaruhi dan didominasi oleh kepentingan duniawi, kelak diakhirat, maka hal itu menandakan bahwa kedudukan kita, masih rendah dibawah derajat muqorrobin yakni golongan Abror.

Namun yang lebih celaka lagi adalah apabila hati kita tidak mempercayainya yakni kosong dari kedudukan Allah Swt yang secara lahir perintah-perintah Allah tidak dianggap (reken: Jawa) Maka sadarilah kita ada dalam golongan ‘Ammah.

Sehubungan dengan hal tersebut dalam sebuah Hadits Nabi Saw bersabdah:

مَنْ قَالَ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ وَمَدَّهَا بِالتَّعْظِيْمِ غَفَرَ اللهُ لَهُ أَرْبَعَةَ آلآفِ ذَنْبٍ مِنَ الْكَبَائِرِ

Artinya Barang siapa membaca    لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan ikhlas dalam hati dan memanjangkannya karena (demi) mengagugkan Allah, Maka Allah akan mengampuninya empat ribu dosa-dosa besar.

Yang dimaksud dengan “membaca” bukanlah hanya asal membaca saja, akan tetpi membaca dengan penuh keikhlasan dan keinsafan dalam hati, bukan hanya sekedar membaca secara lisan dan lupa kepada Allah dan hatinya kosong dari penafian sesembahan selain Allah atau   إِلاَّاللهُ لاَ مَعْبُوْدَ , إِلاَّ اللهُ  لاََمَقْصُوْدَ, dan مَحْبُوْبَ إِلاَّاللهُ لاَ, contohnya apabila kita diundang oleh seseorang untuk tahlilan, dalam membaca tahlil, hati dan fikiran kita selalu teringat akan makanan apa yang akan dihidangkan ( berkat ) oleh si pengundang, maka itu berarti menganggap sama antara kedudukan Allah Swt dengan hidangan ( berkat ), dan berarti kedudukan berkat itu lebih tinggi dan mahal dari pada Allah Swt, karena sesuatau yang banyak diingat maka itulah yang dicintai dan dihormati. Contoh lagi, dalam kehidupan sehari-hari misalnya, saat kita melihat rumah yang indah, kemudian di persimpangan jalan kita merasa tertarik, ketika kita melihat kendaraan yang bagus, pada kesempatan yang lain kita melihat wanita yang begitu cantik, bagaimana perasan kita, manakah dari ketiganya yang paling kita kagumi ? Disaat kita terdiam menentukan pilihan, menerawang penuh kekaguman, maka pilihan itulah yang  kita cintai dan agungkan. Seperti itulah gambaran dzikir, disaat mebaca لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, Apa yang terlintas dalam benak kita, Allah atau berkat-nya ?, jika yang terjadi demikian maka hal itu menunjukkan derajat kita masih rendah.

Berkenaan yang  hal diatas, didalam syarakh kitab Al- Hikam disebutkan bahwa Fudhoil bin ‘iyadl RA. berkata:

 

إِنَّمَا يُطِيْعُ الْعَبْدُ رَبَّهُ عَلَى قَدْْرَةِ مَنْزِلَتِهِ مِنْهُ

Artinya: Sesungguhnya seorang hamba  dapat melakuakan

ketaatan ibadah kepada Allah itu dilihat menurut

kedudukannya di sisi Allah.

 

Maksud “kedudukannya disisi Allah” disini dapat dipahami dengan dua pengertian, Pertama: ketaatan itu ditentukan oleh kedudukan masing-masing hamba itu sendiri, artinya,  jika kedudukan seorang hamba itu agung, maka ketaaatan dalam beribadahnya akan baik. Kedua: ditentukan oleh iman atau rasa percaya seorang hamba tersebut  kepeda Allah tentang apa-apa yang telah disebutkan didalam Al-Qur’an maupun al-Hadits, seperti percaya dengan sepenuh hatinya bahwa siksa neraka itu sangat berat, surga itu indah, tempatnya kenikmatan dan percaya bahwa akhirat itu benar-benar akan dijalani dan dialami manusia, sehingga menumbuhkan rasa keimanan serta dapat mendorong dirinya untuk giat melakukan ibadah.

Sebaliknya jika ada seorang hamba yang tipis keimanannya, menganggap bahwa semua itu hanyalah bohong dan omong kosong belaka, maka Hal itu dikarenakan tidak ada sesuatu yang mendorongnya untuk giat beribadah, itu semua dapat dilihat, bagaimana ibadahnya hamba yang begitu lemah dan malas.

Dalam kesempatan lain Wahab bin Munabbah berkata : Aku pernah membaca kitab-kitab Allah Swt yang terdahulu, disana terdapat Firman Allah :

Artinya : “Wahai anak Adam, ta’atilah perintah-Ku dan janganlah engkau memberitahu Aku, tentang apa-apa yang menjadi kebutuhanmu, dan jangan pula engkau ajari Aku tentang apa-apa yang terbaik bagimu, Sesungguhnya Aku mengetahui kepentingaa hamba-Ku_ Aku memulyakan orang yang patuh pada perintah-Ku dan menghina orang meremehkan perintah-Ku.Aku tidak akan pernah menghiraukan hak/kepentingan hamba-Ku sebelum dia mau memperhatikan hak-hak-Ku”.


Kategori