Oleh: manto | 2 Maret 2009

HIKMAH

HIKMAH

إِنَّمَا جُعِلَ الدَّارُ اْلآخِرَةُ مَحَلاًّ لِجَزَاءِ عِبَادَهُ اْلمُؤْمِنِيْنَ لأَِنَّ هَذِهِ الدَّارَ لاَ تَسِعُ مَا يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيْهِمْ ولأنه أجل أقدارهم عن أن يجازيهم فى دار لا بقاء لها.

من وجد ثمرة عمله عاجلا فهو دليل على وجود القبول آجلا

 

“Alloh menjadikan  rumah akhirat untuk membalas ketaatan hambanya yang beriman, karena dunia ini tak akan  muat digunakan sebagai tempat atas apa yang dikehendaki oleh Alloh untuk diberikan kepada mereka. Kerena Alloh mengagungkan harkat mereka untuk memberikan imbalan pahala di dalam rumah yang sama sekali tidak abadi ini.

Barang siapa  yang mendapatkan buah amalnya sekarang di dunia, maka hal itu menjadi pertanda wujud penerimaan amalnya di akhirat.”     

 

ARTI HISAN DAN MAKNAN

Dunia ini tidak akan cukup untuk menyimpan pembalasan Alloh (pahala) orang – orang mukmin yang beribadah. Oleh karenanya, dunia ini disebut  kecil secara hisan dan kecil pula secara maknan. Arti hisan dan maknan dapat dimengerti dari contoh – contoh berikut.

Di alam akhirat nanti, orang mukmin yang berada pada derajat atau kelas paling rendah, akan diberi pembalasan oleh Alloh berupa “kerajaan yang luasnya 700 tahun perjalanan”. Apabila sedemikian besar pembalasan itu diberikan kepada orang mukmin yang paling rendah, bisa kita bayangkan seberapa besar bagian orang mukmin yang derajatnya lebih tinggi, seberapa besar bagian para wali, seberapa besar bagian para nabi, dan seberapa besar bagian para rosul. Apabila semua pembalasan (pahala) dari Alloh itu diberikan di dunia, maka dunia ini tidak akan mampu menampungnya.

Disebutkan pula bahwa pembalasan orang mukmin yang paling akhir keluar dari neraka dan paling akhir masuk surga adalah 10 kali lipat dibanding kerajaan terbesar di dunia. Seandainya pada jaman ini kerajaan terbesar adalah Amerika, maka dunia tidak akan mampu menampung 10 kali lipatnya.

Dari ulasan diatas, menunjukan bahwa dunia ini tidak mencukupi pembalasan (pahala) Alloh secara hisan, oleh karenanya pembalasan Alloh tidak diberikan di dunia. 

Sebagai manusia, terkadang kita tidak mau bersabar karena pembalasan itu tidak dapat dilihat secara kasat mata. Padahal, semuanya hanya dapat dilihat dengan hati yang meyakini akan kebenaran segala sesuatu yang terdapat dalam Al – Qur’an. Seperti termaktub dalam hadits;

إن أصدق الحديث كلام الله

“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kalam Alloh”

 

Kemudian, apa yang dimaksud dunia itu kecil secara maknan ?. dunia adalah perkara yang hina. Hingga pada saat Alloh menciptakan dunia ini, Alloh tidak mau melihatnya dengan penuh perhatian. Ibaratnya, andaikan dunia ini adalah alat pembayaran, maka besarnya (harganya) tidak sebanding dengan sayap nyamuk. Oleh karena kehinaan dunia, maka pembalasan ( pahala ) orang mukmin yang agung atau luhur tidak diberikan di dunia. Artinya, karena keagungan dan keluhuran pembalasan (pahala) orang mukmin, maka Alloh tidak memberikannya di dunia yang hina. Demikianlah kebijaksanaan dan rahmat Alloh kepada orang mukmin.

Sesuatu yang sama – sama hina, namun memilki tingkat atau kelas yang berbeda, itu pun tidak pantas jika dibaurkan menjdi satu. Contohnya, anda memilki emas bagus; 22 karat yang berupa perhiasan, kemudian anda menyimpannya di dalam peti yang berisi tinja (jawa; taek). Hal semacam itu tidaklah pantas. Meskipun, emas adalah barang yang hina dan tinja juga barang yang hina. Meskipun sama – sama hina, keduanya memiliki tingkat (kelas) yang berbeda, sehingga tidak pantas untuk di baurkan menjadi satu. Apabila hal semacam itu tidak pantas, apalagi sesuatu yang mulya ditempatkan di tempat yang hina, maka akan menjadi lebih tidak pantas.

 

BUAH AMAL

Pembalasan amal di dunia (tsamroh) ada kalanya tsamroh (buah) lahiriyyah dan tsamroh (buah) bathiniyyah. Tsamroh lahir artinya, buah ibadah yang diberikan Alloh secara lahiriyyah (nyata) di dunia. Contohnya, Ada orang yang ahli puasa, ahli ibadah, ahli tirakat, tidak pernah membicarakan keburukan orang lain, dan lisannya tidak pernah berbohong, maka apa yang diucapkan oleh orang tersebut bisa langsung terjadi (jawa; mandhi). Termasuk buah amal secara lahiriyyah adalah karomah yang dimiliki oleh orang yang bersungguh – sungguh dalam beribadah. 

Tsamroh bathin yang dimaksud adalah buah amal yang diterima di dalam hati seseorang, orang tersebut merasakan kenikmatan dalam beribadah, hal itu juga disebut dengan Al – Halawah (manisnya amal). Contohnya, orang yang mendapatkan manisnya amal, jika melakasankan sholat akan mendapatkan ketenangan dan kenikmatan dalam menjalankannya. Pada saat membaca surat Al – Fatihah, dia dapat merasakan kenikmatan dari setiap kalimat maupun setiap huruf yang dibacanya. Kenikmatan dalam menjalankan ibadah tersebut, membuatnya ingin selalu melaksanakan ibadah dengan penuh kecintaan. Apabila seseorang telah merasakan hal tersebut dan mendapatkan tsamrotun bathiniyyah, maka hal tersebut menunjukan bahwa amal ibadahnya diterima oleh Alloh swt, dan akan diberikan pembalasan (pahala) di alam akhirat.

KENIKMATAN DALAM BERIBADAH

Seseorang yang sedang bedialog dengan kekasihnya, maka dia akan merasakan kenikmatan dan tidak mempedulikan waktu. Sebaliknya, jika seseorang berdialog dengan musuh, maka dia tidak akan merasakan kenikmatan dan cenderung ingin secepatnya menyelesaikan dialognya. Kedua hal tersebut dapat kita jadikan alat peraba bagi diri kita. Apakah ketika sholat, kita bagaikan orang yang berbicara dengan kekasih, atau berbicara dengan musuh, sepatutnya kita dapat meraba diri kita masing – masing. 

Untuk merasakan kenikmatan dalam menjalankan ibadah, perlu adanya latihan – latihan yang lama. Dikatakan oleh Utbah Al – Ghulam; “saya melatih diri untuk melakasanakan sholat malam, selama 20 tahun”. Setelah 20 tahun, barulah Utbah Al – Ghulam merasakan manisnya sholat malam. Jika seseorang sedang menjalankan latihan, maka dia tidak akan merasakan kenikmatan seperti orang telah mampu.

Dikatakan pula oleh Tsabit Al-Banani; saya melatih diri membaca Al – Qur’an  selama 20 tahun, setelah 20 tahun baru merasakan kenikmatan membaca Al – Qur’an. Menurut Hasan Al – Basri ; kenikmatan dalam beribadah dapat di temui dalam tiga hal: (1) pada waktu membaca Al – Qur’an, (2) Pada waktu berdzikir kepada Alloh, dan (3) Pada waktu bersujud. Kemudian, ada yang menambah satu hal (nomor 4). Yaitu, carilah rasa nikmat pada waktu bersedekah. Apabila orang sudah merasakan nikmat, hendaknya diteruskan dengan bersyukur atas nikmat yang diterima hingga wushul kepada Alloh swt.

Akan tetapi, kenikmatan yang didapatkan saat beribadah tidak diperkenankan menjadi alasan untuk senang melaksanakan ibadah. namun senang melaksanakan ibadah harus karena Alloh yang telah memberikan kenikmatan. Apalagi beribadah karena ingin merasakan kenikmatan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Yang di harapkan dalam beribadah haruslah ridlo Alloh swt. Persoalan kenikmatan dalam beribadah, sebenarnya hanya sebagai timbangan amal. Artinya, ibadah kita diterima atau tidak oleh Alloh swt.Red//

 

  

 

 


Kategori

%d blogger menyukai ini: