Oleh: manto | 2 Maret 2009

ANUGRAH ALLOH YANG PALING AGUNG

متى جعلك فى الظاهر ممتثلا لامره ورزقك فى الباطن الاستسلام لقهره فقد اعظم المنة عليك

 

Apabila Alloh swt pada lahirnya menjadikanmu selalu mentaati perintahnya dan dalam hatimu menyerah bulat kepadanya, maka berarti Alloh telah memberikan kepadamu sebesar-besar anugerh-Nya[1].

 

            Sebelumnya perlu diketahui,bahwa hikmah ini berkaitan erat dengan masalah hakikat (hal-hal yang sebenarnya).Karena seperti yang kita ketahui bersama, banyak sekali orang yang minilai sesuatu hanya berdasarkan aspek lahiriyah saja. Seperti anggapan orang awam bahwasanya anugerah Alloh swt yang paling besar adalah ketika Alloh memberikan hambanya kedudukan atau pangkat, harta yang melimpah kesehatan, bisa duduk di awan, berjalan di atas air dan sebagainya. Ternyata semua ini adalah  anugerah yang semu dan bukan anugerah yang hakiki dan yang dikehendaki oleh Alloh.

            Anugrah yang paling agung dan yang hakiki serta dikehendaki oleh Alloh adalah dua hal, yakni;

  1. anggota lahir yang bisa menjalankan segala perintah Alloh
  2. kepasrahan hati (istislam) terhadap segala sesuatu yang dikehendaki oleh Alloh.

Kiranya patut disyukuri oleh seorang hamba yang telah diberi oleh Alloh dari kedua anugerah tersebut.

 

UBUDIYAH DZOHIR DAN UBUDIYA BATHIN

            Telah dijelaskan diatas bahwasanya anugerah yang paling agung yang diberikan oleh Alloh kepada hambanya adalah anggota lahir yang bisa menjalankan segala perintah-Nya, artinya anggota lahir seorang  hamba diberi pertolongan oleh Alloh untuk bisa menjalankan segala perintahnya, seperti haji, sholat, zakat, dan lain-lain secara ikhlas. Kemudian dalam hatinya pasrah serta ridlo terhadap segala sesuatu yang telah dikehendaki oleh Alloh swt. Seorang hamba yang telah melakukan kedua hal tersebut berarti dia telah diberi dua anugerah yang agung oleh Alloh yakni ubudiyah dzohir dan ubudiyah bathin.

            Ubudiyah dzohir adalah menghamba kepada Alloh dengan anggota lahir atau wadak kasar (jawa) sedangkan ubudiyah bathin adalah menghamba kepada Alloh dengan kepasrahan dan keridloan hati kepada-Nya.

 

DERAJAT AGUNG MENURUT ALLOH

            Seorang hamba yang kesehariannya hanyalah seorang pedagang, setiap hari keluar masuk kampung hanya untuk sekedar menjajakan barang daganganya, kalau dihitung penghasilanyapun tak seberapa, hanya cukup untuk memberi makan anak dan istrinya. Tetapi kalau mau menjalankan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Alloh disertai kepasrahan dan keridloan hati dalam menghadapi segala sesuatu yang telah dikehendaki oleh Alloh kepadanya, maka seorang hamba yang semacam ini memang kelihatanya hina menurut manusia, tetapi agung dihadapan Alloh swt.

            Mencari derajat agung bukanya dihadapan manusia, tetapi dihadapan Alloh.Karena derajat agung dihadapan manusia adalah semu, yang cepat atau lambat akan sirna. Dan setiap sesuatu yang sirna akan diakhiri dengan penyesalan. Oleh sebab itu, orang bijaksana adalah orang yang menempuh sesuatu yang kekal dan abadi yang tidak akan sirna serta tidak diakhiri dengan penyesalan, yakni Alloh SWT.

Seseorang yang oleh Alloh diberi kedudukan yang tinggi semisal Presiden, belum bisa dipastikan mampu menjalankan semua perintahnya. Memang kedudukan atau pangkat bisa menjadikan seseorang terhormat dihadapan masyarakat, selalu dipuji dan disebut-sebut namanya, tetapi suatu saat kedudukan atau pangkat bisa menjadikan seseorang hina dihadapan masyarakat. kedudukaan merupakan suatu anugerah apabila orang yang diberi kedudukan tersebut bisa berbuat adil dan bijaksan sebagaimana sabda Nabi :

 

قال: «أَقْرَبُ النَّاسِ مِنِّي مَجْلِساً يَوْمَ القِيامَةِ إمَامٌ عَادِلٌ» . رواه أبوسعيدالخدري1

Manusia yang paling dekat tempat duduknya dengan-Ku pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil.

 

            Sebaliknya kedudukan merupakan suatu baliyah (cobaan) dari Alloh, manakala, orang yang diberi kedudukan tersebut tidak bisa berbuat adil. Sebagaimana sabda Nabi saw :

وقد قال النبـي :«ما مِنْ وَالِي عَشَرَةٍ إلاَّ جَاءَ يَوْمَ القِيامَةِ مَغْلُولَةً يَدُهُ إلَى عُنُقِهِ أطْلَقَهُ عَدْلُهُ أَوْ أَوْبَقَهُ جَوْرُهُ»2

Setiap orang yang memimpi orang sepuluh pasti besok dihari kiamat kedua tangannya dibelenggu dilehernya, kalau memang dia adil maka belenggu itu akan lepas tetapi sebaliknya apabila ia tidak adil maka ia akan hancur didalam sikasaan yang dahsyat.

 

Syaidin Ali r.a juga berkata :

 

فقال: سمعت من أمير المؤمنين علي رضي الله عنه يقول: إن في جهنم حيات كالقلال وعقارب كالبغال

 

 تلدغ كل أمير لا يعدل في رعيته. ثم قام وهرب.3

Sungguh didalam neraka jahannam itu ada ular yang lilitannya sebesar gunung dan kalajengking yang sebesar bighol (Keledai) yang menggigit dan menyengat pemimpin yang tidak adil dimasyarakat.

 

            Dari sabda dan perkataan Sayyidani Ali, kiranya dapat di renungkan bahwasanya begitu berat tugas dan resiko yang harus ditanggung oleh seorang pemimpin.

            Telah disebutkan diatas bahwasanya kekuatan manusia yang melebihi batas – dapat berjalan diatas air, duduk bersila di atas awan- bukanlah suatu anugerah yang paling agung. Salah seorang wali Alloh berujar “bisa terbang di angkasa kok di inginkan, sudah enak jadi manusia kok ingin jadi burung, bisa berjalan diatas air kok di inginkan, sudah enak jadi manusia kok ingin jadi anggang-anggang.” Ini semua karena keinginan bisa terbang di angkasa,bisa berjalan di atas air, bisa melihat alam barzah dan ingin menjadi wali Alloh adalah keinginan yang semu dan tidak pantas dicita-citakan.

            Adapun keinginan yang hakiki adalah keinginan untuk mendapatkan anugerah Alloh yang paling agung yakni anggota lahir yang bisa menjalankan segala perintah Alloh dan kepasrahan hati terhadap segala sesuatu yang telah dikehendaki oleh Alloh. Dan hanya dua anugerah tersebut yang pantas di inginkan oleh seorang hamba,karena sudah tidak ada lagi yang lebih besar dari pada dua anugerah tersebut .

            Dalam sarah Al-Hikam, Imam As Syarqowi, berkata “apalagi yang kamu inginkan kalau sudah diberi dua hal ini, dan apalagi yang kamu harapkan selain dua hal ini, karena sudah tidak ada lagi perkara yang melebihi kedua hal ini”4

            Imam As Syadzili menceritakan satu kisah tetang beliau. Suatu ketika beliau bertemu dengan saudara fillah, kemudian bersamanya Imam Asyadzily  mengasingkan diri (‘uzlah) di dalam gua ditengah sebuah hutan, dengan harapan Alloh akan mengangkatnya sebagai salah seorang wali-Nya. Beberapa hari kemudian, keinginan mereka berdua belum juga dikabulkan oleh Alloh, semuanya masih seperti sediakala hati keduanya belum juga dibuka oleh Alloh, mereka masih berharap mungkin minggu berikutnya Alloh akan mengangkat mereka menjadi wali.

            Dalam minggu-minggu yang mereka nantikan,ternyata doa mereka berdua belum juga terkabul, sampai akhirnya berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Pada suatu ketika  mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang tua renta yang berpakaian serba putih didepan mulut gua, mereka berdua pun heran, dari mana datangnya orang tersebut, Akhirnya Syaikh Abu Hasan As-Syadzili memberanikan diri untuk bertanya kepadanya ;

            “Siapa kamu

            “Abdul Malik” jawabnya.

            “bagaimana kabarmu” Tanya Imam Asyadzily.

            “bagaimana kabarmu-bagaimana kabarmu!” gertaknya sinis,dari raut wajah nya menampakan kemarahan sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaan Syaikh Abu Hasan.

 Kemudian orang itu kembali melanjutkan perkataanya.

            “seharusnya kalau mau bertanya itu, seperti ini wahai anak muda, ‘bagaimana tingkahnya seorang yang berkata dalam minggu-minggu atau  bulan-bulan ini aku akan menjadi wali. kemudian ia tidak diangkat menjadi wali oleh Alloh dan tujuannya tidak berhasil serta tidak mendapatkan kenikmatan dunia serta akhirat. itulah sebenarnya yang pantas kamu tanyakan wahai anak muda kepada nafsumu sendiri, kemudian bertanyalah kembali kepadanya, wahai nafsu apakan kamu tidak bisa beribadah kepada Alloh secara tulus, sedangkan Alloh sudah berfirman ;

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُون   (الذاريات: 56)

            Setelah memarahi mereka berdua, orang tua itupun menghilang secara tiba-tiba. Akhirnya mereka berdua bersyukur kepada Alloh karena Alloh telah mengingatkannya dengan mengutus orang tua yang misterius. Setelah kejadian itu mereka berdua bertaubat kepada Alloh tanpa henti-henti,baru kemudian Alloh mengangkat mereka menjadi wali. 5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

1 Ihya’ Ulumiddin, Juz : 3 Hal : 232

2 Ibid,Hal:232 . Juz: 4

3 Ibid,Hal:127. Juz: 2

4 Syarhu Al-Hikam Li As- Syarqowy. Hal:83

5 Syarhu Al-Hikam li Ibni Al-I’bad. Hal:83


Kategori