Oleh: manto | 2 Maret 2009

Antara Bencana & Hamba

ليخفف الم البلاء بانه سبحانه هوالمبلي لك فالذي وجهت كمنه الاقدارهوالذي عودك حسن الاختيار

 “seharusnya terasa ringan kepedihan bala’ (bencana) yang menimpa kepadanya karena engkau mengetahui bahwa Alloh yang menimpakan kepadamu takdirnya itu dialah yang membiasakanmu merasakan sebaik-baik pilihanya (pemberianya)”

 

          Apabila manusia memahami bahwasanya suatu cobaan yang datang dari Allh swt, diterima dengan ridlo hati, dan dipahami pula sebagai anugrah, maka ia akan menerimanya tidak dengan hati sedih, bahkan akan menjadi sesuatu yang sangat ringan. Alloh SWT memberi coban kepada para hamaba-Nya, tidaklah bararti Alloh ta’ala membenci, akan tetapi Alloh ta’ala menunjukkan kasih sayang dengan memperhatikan hamba yang dicoba itu. Demikian pula Alloh SWT. memberi kesempatan kepada para hamba untuk berikhtiar sepenuh hati, agar segala yang menimpanya mendapatkan jalan keluar dengan pertolongan dan izin Alloh semata.

          Contoh dalam kehidupan sehari-hari dapat diambil perumpamaan pada seorang ibu kepada anaknya. Untuk mewujudkan rasa kasih sayangnya seorang ibu pasti akan membiasakan dirinya selalu memberi dan memilihkan sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk anak. semisal ketika membelikan makanan, minuman atau mainan pasti akan dipilihkan yang baik, bermanfaat dan yang disukai anak. jika hal itu dilakukan terus-menerus dan akhirnya menjadi kebiasaan seorang ibu, maka pada akhirnya si anak akan dapat memahami kebiasaan-kebiasan ibu yang selalu berbuat baik. Adapun suatu saat ada orang tua menjewer atau memukul anaknya, Maka si anak akan tetap bersabar, tidak sakit hati dan selalu merasa ringan, sebab ia sudah mengerti kebiasaan ibu, yaitu selalu memberi anaknya pasti yang baik. Misalnya si anak minum minuman keras atau si anak memakai narkoba, pasti seorang ibu akan marah bahkan menjewer atau memukulnya. Hal itu akan difahami bahwa perbuatan ibu yang demikian bukan berarti ibu benci atau ingin menyiksa anaknya, akan tetapi semata-mata kekhawatiran seorang ibu, kalau ini sampai terlanjur, anak akan menjadi rusak akhlaknya. Jadi jeweran atau pukulan ibu adalah termasuk bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

          Begitu juga manusia sebagai hamba Alloh. dengan pilihan-Nya dulu manusia yang asalnya tidak ada kemudian menjadi ada, setelah itu dengan pilihan-Nya juga manusia diberi pertolongan kelestarian hidup, seperti untuk bernafas sudah tersedia udara, untuk minum sudah tersedia air, Ketika lapar sudah tersedia bahan makanan, agar terhindar dari udara dingin atau sengatan matahari sudah di sediakan bahan-bahan bangunan dan sebagainya. Itu semua adalah kebiasaan Alloh untuk hambanya. Setelah semua kebutuhan kelestarian fisik terpenuhi, maka untuk kebutuhan kelestrian rohani, oleh Alloh telah disediakan agama, cara beriman, cara masuk islam dan cara berbuat ihsan melalui Al Quran dan hadist Rosululloh SAW, yang kesemuanya akan membawa kebahagiaan di akhirat nanti. Semua itu sudah disediakan oleh Alloh serta sudah menjadi kebiasaan Alloh untuk hambanya. Adapun suatu saat hamba diberi ujian semisal sakit, hartanya hilang, rumahnya roboh karena gempa bumi atau mungkin ia dijadikan sebagai orang fakir miskin atau yang lainya, maka ia akan bersabar dan tetap merasa ringan, sebab ia tahu bahwa itu semua berjalan atas taqdir Alloh SWT. sedangkan Alloh mendatangkan bala’ (bencana) kepada hamba-Nya adalah termasuk kebiasaan Alloh yang selalu memberi pilihan terbaik untuk hamba-Nya. Jadi pada waktu menghadapi bencana seharusnya seorang hamba mempunyai i’tiqod (keyakinan) bahwa datangnya bencana tersebut mengandung kebaikan dan kemanfaatan yang tidak di ketahui olehnya.

 

MENGAPA ADA BENCANA

          Alloh berfirman

عسى ان تكره شيأ وهو خير لكم

boleh jadi sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi lebih baik bagi kamu dan barangkali apa yang kamu suka itu belum tentu baik bagi kamu” 

 

          Abu Tholib Al Maliky, menjelaskan tentang ayat ini, terkadang manusia tidak menyukai kefakiran, kemiskinan, kebodohan, tidak terkenal dan sebagainya, belum tentu manusia yang tidak memiliki hal tersebut lalu menjadi baik dan beruntung baginya, sebab biasanya ketika seseorang menjadi orang miskin ia akan selalu merasa banyak membutuhkan kepada Alloh, sehingga akan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Hal itu berarti lebih baik ketika didunia melarat sebab di Akhirat nanti ia akan masuk surga tanpa banyak di hisab (perhitungan amal), lain lagi seseorang ketika didunia menjadi orang yang pandai, termasyhur dan kaya raya, tetapi tidak mau mensyukuri nikmat kekayaanya, mereka mengakui bahwa itu adalah sebagai hasil dari usahanya sendiri. Walaupun secara lahir memang benar harta itu diperoleh dengan usahanya sendiri, akan tetapi hakikatnya itu semua adalah pemberian dari Alloh SWT, jika manusia benar-benar mengakui atau merasa ilmunya, kemasyhuranya, harta kekayaanya adalah hasil dari usahanya sendiri maka ia tergolong orang yang takabur (sombong), sebagaiman yang telah dijelaskan Imam Al Ghozali, penyebab takabur itu ada 7

  • 1. badan yang sehat
  • 2. ketampanan dan kecantikan
  • 3. banyaknya ilmu
  • 4. –
  • 5. –
  • 6. –
  • 7.

Dan tidak ada balasan yang paling baik bagi orang kaya tapi lupa diri kecuali siksa neraka.

          Sedangkan jika seorang hamba diberi bala’ oleh Alloh berupa sakit misalnya, kemudian ia mau menerima dengan sabar dan ridlo, maka setiap hari dosa-dosanya akan dikurangi dan pahalanya akan terus ditambah serta derajatnya akan dinaikkan oleh Alloh. Sebagai contoh, Kyai Arwani Kudus, beliau adalah seorang hafidz Al Quran dan sangat wirai, banyak santri-santrinya telah hafal Al Quran. Selain itu beliau juga seorang mursyid thoriqoh Qodiriyah wa Naqsobandiyah. Pada masa-masa akhir hidupnya bertahun-tahun beliau diberi oleh Alloh SWT sakit struk yang parah, jangankan untuk berjalan atau sholat makan saja harus melalui hidung.

Hal serupa di alami murid beliau Mbah Abdul Salam, beliau adalah paman dari KH Sahal Mahfudz dan juga menjadi seorang mursyid thoriqoh. Sebelum meninggal beliau mengalami sakit struk bertahun-tahun lamanya. Ketika menunaikan ibadah haji, tanpa sepengetahuanya rumah beliau yang asalnya jelek terbuat dari anyaman bambu, dibangun dan diperbaiki oleh pabrik rokok Djarum sehingga menjadi rumah gedung yang kokoh, akan tetapi setibanya dari ibadah haji ternyata beliau tidak mau memasuki rumahnya “saya tidak mau masuk, sebab ini bukan rumah saya” kata Mbah Abdul Salam. Akhirnya beliau mau masuk setelah pihak pabrik yang membangun rumah tersebut didatangkan untuk memberi pernyataan bahwa rumah tersebut memang benar-benar milik Mbah Abdus Salam.

          Pernah suatu ketika santri-santri beliau mengejar seorang pencuri, sampai akhirnya pencuri tersebut tercebur disebuah kolam. Ia terjebak tidak bisa lari kemana-mana, setiap akan naik dari kolam pukulan santrilah yang menyambutnya. Tidak beberapa lama Mbah Abdus Salam keluar dari kamarnya

          “ada apa malam-malam begini ribut ?” Tanya beliau

          “ada maling yang mencuri ayam Mbah” jawab para santri

          “sudah biarkan saja, yang salah bukan malingnya tapi sayalah yang salah, kenapa saya memelihara ayam, seandainya saya tidak punya ayam pasti malingnya juga tidak masuk kemari”

          Dapat diambil hikmah dari cerita-cerita diatas, bahwa bala’ atau bencana akan ditimpakan pada siapa saja tidak memandang siapa orang tersebut, semuanya atas kehendak Alloh tinggal bagaimana manusia menyikapinya, apakah mau bersabar atau tidak?

         

PERTOLONGAN UNTUK IMAN

Orang yang selalu mendapat taufiq (pertolongan Alloh swt) ialah mereka yang terpelihara ibadah dan imanya disaat menghadapi ujian dan cobaan dari Alloh. semisal, suatu saat ada seorang kehilangan harta semisal radio atau televisi. Seorang hamba yang mengerti pasti akan berfikir mungkin dengan hilangnya radio atau televisi ini akan lebih bermanfaat, sebab ketika radio/TV ada, setiap hari cuma mendengarkannya, sehingga sering meninggalkan membaca Al-Qur’an,  wiridan dan ibadah-ibadah lainpun juga banyak yang tertinggal. Dari contoh tersebut berarti seseorang telah diberi taufiq dan hidayah oleh Alloh yaitu diberi cobaan ternyata imanya masih kuat.

Kemudian apa yang harus dilakukan apabila hal itu benar-benar terjadi, apakah perlu mencari pencurinya atau cukup dengan bersabar ?

Rosululloh SAW bersabda ;

اللهم  إهدي قومي فانه لايعلمون

 

“…………………………………………..”

Apabia disakiti oleh seseorang jangan mendoakan dengan doa yang jelek, tapi doakanlah dengan doa yang baik “mudah-mudahan setelah ini pencurinya menjadi orang kaya, sehingga ia tidak mencuri lagi dan menyadari semua kesalahannya”. Inilah yang lebih baik.

Pilihan kedua adalah mencari si penjahat, dengan tujuan agar si pencuri tidak terus menerus melakukan perbuatanya, sebab jika hal itu terus terjadi maka akan banyak merugikan orang, dan melaksanakan hal tersebut berarti juga melaksanakan syariat islam, karena dalam islam orang yang mencuri ada hukumanya yaitu potong tangan, membunuh orang hukumanya juga akan dibunuh dan sebagainya. Jadi mencari si penjahat bukan atas dasar dendam tetapi memang benar-benar ingin menegakkan syariat islam.

Ali Abi Tholib ketika ia berperang melawan orang-orang kafir, banyak sekali teman-temannya yang ahli berperang tewas. Hal tersebut disebabkan dipihak musuh ada seorang yang lihai ( ahli ) berperang, banyak prajurit pilihan dari pasukan islam mati di tangannya. Akhirnya Ali sendirilah yang menghadapi, dan dari pertarungan tersebut Ali dapat mengalahkan musuhnya hingga tersungkur jatuh ketanah, dadanya diinjak, sementara ujung pedang Ali sudah berada di leher si musuh, sekali tebas saja mungkin kepalanya akan terpisah dari badanya, tetapi aneh Syaidina Ali tidak jadi membunuhnya bahkan ia lari meninggalkan musuh yang sudah tidak berdaya,

Ali… Ali… berhenti, aku tidak akan membunuhmu, aku hanya ingin bertanya” teriak musuh Syayidina Ali

Kemudian Ali pun berhenti

          “wahai Ali, kawanmu banyak yang kubunuh, sampai akhirnya kamu sendiri menghadapiku, ternyata aku kalah, kakimu didadaku, ujung pedangmu sudah dileherku, tapi mengapa kau lari?” tanyanya dengan keheranan.

          ” pada waktu aku memerangimu, aku ikhlas li I’lai Kalimatillah, setelah kamu kalah rasa dendam masuk kedalam hatiku, sebab kawanku banyak yang kau bunuh oleh karena itu saya lari tidak jadi membunuhmu, saya takut ketika membunuhmu dengan dasar dendam bukan karena alloh.” Jawab Sayyidina Ali.

 

LARI DARI ALLOH

          Didunia ini semua orang pasti pernah mengalami kesusahan atau bencana, akan tetapi sedikit sekali manusia yang mau menerimanya bahwa ujian tersebut dari Alloh SWT, bahkan dengan ujian tersebut orang sering menganggap bahwa “Tuhan tidak adil” hal ini biasanya disebabkan oleh seseorang yang merasa tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain tapi ternyata masih saja disakiti orang, ia berkata “mengapa Tuhan berbuat seperti ini terhadap saya?, apa dosa saya?, Alloh tidak adil” misalnya. Ini berarti orang tersebut ketika diuji oleh Alloh ternyata ia lari / lupa dari Alloh.

          Selain bala’ / bencana yang dapat menjadikan manusia lari dari Alloh, kenikmatan pun terkadang juga akan membuat seseorang lari dari Alloh, yaitu lupa kepada Alloh disebabkan memperoleh banyak kenikmatan, yang mana dengan kenikmatan tersebut ia merasa tidak lagi merasa butuh kepada Alloh, misalnya seseorang yang dalam hidupnya hanya diisi untuk menumpuk-numpuk harta, mendapatkan kedudukan, kekuasaan atau pengaruh yang tinggi dan lain sebagainya.

          Didalam sarah Al Hikam, Syaikh Junaidi menerangkan, ketika beliau tidur di rumah gurunya yaitu Syaikh Sirri As Saqothi. Ditengah-tengah tidurnya beliau dibangunkan oleh gurunya “wahai Junaidi saya baru saja bermimpi, seolah-olah saya berhadapan dengan Alloh, kemudian Alloh berkata kepadaku ‘ketika Aku meciptakan mahluk, semuanya mengaku cinta kepadaku, kemudian Aku membuat dunia, maka lari dariku 90 % dan yang tinggal hanya 10 %, kemudian Aku ciptakan surga, maka lari dariku 9 % dan yang tinggal hanya 1%.” Kata Syaikh Sirri.

          Semua ruh ketika masih berada dialam arwah sebelum diciptakan terlebih dahulu ditanya oleh Alloh

اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ

bukankah Aku ini tuhanmu”

Kemudian semua ruh menjawab

قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا

ya kami bersaksi engkaulah tuhan kami”

          Setelah semuanya memberi kesaksian bertuhan kepada Alloh, kemudian darinya dijelmakanlah menjadi manusia dan ditempatkan di bumi sehingga mereka dapat merasakan semua kenikmatan serta keindahannya, maka larilah yang 90 % dari Alloh, semuanya tidak lagi mencintai Alloh seperti yang telah mereka ikrarkan ketika masih di alam arwah, tapi mereka justru mencintai dunia dan yang tersisa hanya tinggal 10%. Kemudian Alloh menurunkan kitab-kitab suci kepada para Rosul yang didalamnya terdapat keterangan-keterangan yang menggabarkan surga dengan segala kenikmatanya, maka larilah 10 % dari 90 % orang yang tersisa, hal itu disebab dalam ibadah mereka tidak lagi lillahi tala, tapi hanya mengharap surga.

          Syaikh Sirri melanjutkan ceritanya,

kemudian Aku (Alloh) menciptakan neraka, maka larilah dariku 90% dari yang tersisa. Kemudian Aku berkata pada yang tertinggal

‘Dunia?’

‘Kami tidak mau’ jawab mereka yang tertinggal

‘surga?’

‘kami tidak suka’

‘bala atau musibah?’

‘kamipun tidak akan lari daripadanya’

‘Sekarang apa yang kau inginkan ?’

‘ya Alloh engkau yang lebih mengerti dari pada kami’

‘Aku (Alloh) yang akan menuangkan kepadamu bala’ yang tidak akan sanggup menanggungnya bukit-bukit atau bahkan gunung-gunung yang besar’

‘apabila engkau yang menguji ya Alloh, maka terserah kepadamu’

Kemudian Alloh berkata

“Engkaulah hambaku yang sebenarnya”

          Hamba yang menyandang gelar kehormatan dari Alloh sebagai “hamba yang sebenarnya” karena mereka telah mampu melampaui beberapa ujian yaitu,

  • 1. tidak terpengaruh dengan dunia
  • 2. tidak tertarik dengan surga
  • 3. tidak takut dengan neraka
  • 4. tidak takut bala atau musibah dari Alloh, sebab mereka tahu bahwa Alloh tidak akan memberi cobaan kepada manusia sekiranya ia tidak mampu menanggungnya

لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا

          Pada suatu ketika nabi Musa ingin sekali mengetahui siapa temanya di akhirat nanti, kemudian ia bertanya kepada Alloh

ya Alloh, siapa nanti yang akan menjadi temanku disurga?”

Alloh menjawab

          “Musa, kalau kamu ingin tahu, pergilah kepadang pasir, nanti engkau akan menemukan sebuah gunung, naiklah!, jika turun ambillah jalan kekiri, setelah itu engkau akan menemukan sebuah gua dan disitulah temanmu di akhirat nanti  berada”

          Setelah Nabi Musa mendapat jawaban dari Alloh, ia pun menjalankanya sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh Alloh. setelah beberapa lama berjalan melewati padang pasir dan pegunungan akhirnya Nabi Musa sampai juga disebuah gua dan kemudian masuklah ia kedalamnya, tak berapa lama berjalan ia menemukan sesuatu seperti seonggok daging. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata onggokan daging itu adalah seorang manusia yang terkana penyakit lepra. Tanganya buntung, kakinya buntung, kedua pipinya berlobang dijadikan rumah kumbang dan dari kulitnya berjatuhan ulat-ulat kecil sebab didalamnya sudah penuh sesak dengan ulat-ulat.

Al Hamdulillah” orang tersebut mengucapkan sesuatu

“As Salamu’alaikum ya ‘Abdalloh” Nabi Musa mengucapkan salam

wa’alaikum salam” ia  menjawabnya

kamu dalam kondisi seperti ini masih bisa mengucapkan Al Hamdulillah, apa yang kamu syukuri” tanya Nabi Musa keheranan

Al Hamdulillah yang diberi cobaan hanya jasadku, bukannya imanku” jawabnya

 

MUTIARA HIKMAH SYAIKH JUNAID

A. ETIKA BERGAUL DAN BERJUANG

Dalam bermasyarakat seorang hamba dituntut untuk dapat bergaul dengan baik dengan orang-orang sekitarnya, berprilaku sopan dan dapat menyenangkan hati orang lain, misalnya apabila datang kepadamu orang yang ahli ilmu, ajaklah ia bicara tentang ilmu. Jika ahli thoriqoh yang datang, bicarakanlah hal-hal mengenai thoriqoh dan jika yang datang orang kaya pemilik perusahaan, bicarakan masalah-masalah perusahaan, dengan demikian lawan bicara akan merasa senang.

Seorang hamba hendaknya dapat memposisikan dirinya berhadapan dengan siapapun, misalnya ketika datang orang miskin hendaknya terlebih dahulu tidak diajak berbicara mengenai ilmu, sebab hal itu akan menambah penderitaanya, Syaikh Junaid berkata :

 

اِذَا لَقِيْتَ الفَقِيْرَ فَلاَ تبْداءْ بِلْعِلْمِ بَلْ تُبْداء بِاالرِّزْقِ فَاِنَّ العِلْمَ يُوْحِسُهُ وَالرِّزْقَ يَأْنِسُهُ

apabila kamu bertemu orang fakir, maka jangan kau dahulukan dengan memberi ilmu, melainkan dengan memberikan kasih sayang, sebab sesungguhnya ilmu itu akan meresahkan hatinya, sedangkan rizqi akan menentramkanya”

         

          Seperti halnya yang pernah dialami KH. Muhammad Djamaludin Ahmad, ketika membangun masjid Al Muhibbin. Beliau diberi tahu oleh seseorang tentang keberadaan orang-orang kaya yang bisa dikatakan dermawan. Semuanya dicatat, kemudian pada hari berikutnya beliau mendatangi salah satu dari orang kaya tersebut, ternyata memang benar rumah orang itu besar dan megah. Setelah mengucapkan salam dan kemudian dipersilahkan masuk, beliau mulai mengutarakan maksud kedatanganya, yaitu minta sumbangan untuk pembangunan masjid Al Muhibbin, tapi apa yang diterima dari orang tersebut, bukanya diberi sumbangan, tapi hanya diberi ceramah agama mulai pukul 07.00 wib sampai pukul 11.00 wib. Akhirnya beliau kembali pulang tanpa memperoleh uang sepeserpun, tentunya hal ini sangat meresahkan hati beliau.

          Demekian pula berjuang ditengah-tengah masyarakat butuh strategi tersendiri, hedaknya tidak memulai dakwahnya dengan langsung memberi pegajian, tapi terlebih dahulu dilihat kondisi masyarakatnya, apabila sebagian besar masyarakatnya orang-orang berandalan atau mungkin dari mereka terdapat banyak orang miskin, bagaimana cara berdakwah pada kondisi masyarakat seperti itu. Misalnya dalam suatu daerah ada segerombolan pemuda-pemuda berandalan sebaiknya jangan tergesa-gesa memberikan ilmu, mungkin untuk pertama kali mereka bisa diajak ngobrol sambil liwetan (masak nasi, jawa) atau sambil main remi. “Kang, main remi ini sebagai sarana begadang biar tidak ngantuk. Begini kang, dari pada begadang terus nggak ada hasilnya, lebih baik main reminya sambil diiringi dzikir Alloh… Alloh, nanti ketika membanting kartu sambil mengucapkan Alloh Akbar.” Nanti kalau sudah mulai akrab dengan dzikir maka untuk selanjutnya akan mudahlah mereka diajak melaksanakan sholat, dan setelah itu bisa diberi pengajian tentang ilmu-ilmu agama.

          Dapat diambil teladan adalah para wali, dulu dalam memperjuangkan penyebaran agama islam mereka berdakwah dengan cara yang halus, sehingga orang-orang yang asalnya belum islam dengan senang hati masuk islam. Seperti yang telah dilakukan oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim, ketika beliau masuk di suatu daerah miskin beliau terlebih dahulu memberikan uang, jika ditempat itu ada yang sakit maka akan diobatinya dan apabila ada yang terkena bencana maka akan ditolongnya. Pada tahap ini beliau belum memberikan ilmu-ilmu agama, suatu saat jika masyarakat sudah menyukai beliau, maka tahap selanjutnya adalah mulai memasukan ilmu-ilmu mengenai tata cara beribadah kepada Alloh dan ilmu-ilmu yang menauhidkan Alloh SWT. Hal ini juga dilakukan oleh para wali lainya.

 

B. TANDA-TANDA ORANG ARIF

          Syaikh Junaid suatu saat pernah ditanya oleh seseorang “man al-arif (siapakah orang ahli ma’rifat itu) beliau memberi jawaban dengan menyampaikan tanda-tandanya orang arif

مَنْ نَطَقَ عَنْ سِرِّكَ وَ اَنْتَ شَاقِطٌ

orang yang mengucapkan atau membicarakan isi hatimu padahal engkau diam

   

Bisa dikatakan orang arif adalah  Romo K.H Abdul Djalil Mustaqim, hal ini bisa dilihat dari tanda-tandanya. Seperti yang pernah deceritakan oleh K.H Muhammad Djamuluddin Ahmad sewaktu beliau mengalami musibah, yaitu mendapat fitnah cukup berat yang datangnya dari para ulama / para Kyai. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1971 waktu itu beliau mengijazahkan dalail al khoirot kepada santri-santri beliau dan setiap bulan romadon dalail dibacakan serta diijazahkan di pondok dan bagi yang mau mengamalkan akan diberi silsilah dalail yang ditanda tangani beliau sebagai tanda bahwa dalail tersebut sudah diizinkan untuk diamalkan.

 Mereka para ulama tidak senang dan meragukan beliau, karena menganggap bahwa dalam usia 28 th K.H Moh Djamaluddin masih terlalu muda untuk memberi ijazah dalail al khorit.         Kyai Djamal berani mengijazahkan dalail al khirot bukanlah untuk gagah-gagahan tapi itu semua atas dasar izin dari guru beliau, yaitu Syaikh Ahmad Baidlowi dari lasem, Syaikh Ahmad As’ari dari poncol salatigo dan Syaikh Marzuqi dari lirboyo. Disamping itu K.H Abdul Fattah Hasyim pun setiap ada orang meminta ijazah dalail selalu menjawab “saya tidak punya, yang punya adalah Djamal, pergilah kesana.”

          Setelah sekian lama beliau mengalami musibah tersebut, baru pada tahun 1975 K.H Djamuluddin sowan kepada K.H Abdul Djalil Mustaqim tulungagung, beliau ingin menanyakan perihal dalail yang diijazahkanya “diteruskan atau tidak”. Sesampainya disana Kyai Djamal langsung diterima K.H Abdul Djalil, beliau mempersilahkan masuk, kemudian sambil duduk beliau berkata “kyai Djamal, dalailnya diteruskan, bapak saya juga senang dengan dalail” jawaban itu diutarakan oleh K.H Abdul Djalil padahal K.H Djamal belum berkata apa-apa.

          Demikian juga pada saat K.H Djamal disakiti banyak orang, beliau sowan lagi kepada Romo K.H Abdul Djalil. Persis seperti diatas, K.H Abdul Djalil berdiri kemudian sambil mempersilahkan duduk beliau berkata “orang Syadziliyyah apabila disakiti seseorang harus bersabar, tidak boleh mendoakan jelek kepada yang memusuhi, semakin disakiti semakin baik pula mendoakanya.”

          Imam Syadzili berkata

لاَ يَكْمِلُ العَالِمُ فِي مَقََامِ العَم حَتَّ التليافِي مَقَامِ الْعلم

orang alim tidak akan bisa sempurna di dalam derajat keilmuanya sebelum diuji oleh Alloh empat hal”

•1.       syamatatil a’da’ dimusuhi/disukurin oleh musuh. Disukurin disini bukanlah berarti terimakasih, misalnya ada orang berjalan kemudian terpeleset jatuh “sukurin, aku bilang juga apa, kapok ngaak..!”

  • 2. wa malamatil as diqo’ dicemooh oleh teman-teman dekat
  • 3. wa tho’nil juhala dicaci maki oleh orang-orang bodoh
  • 4. wa hasadil ulama dibenci dan di iri oleh ulama

وَاِذَا صَبَرَ مِنْ ذَالِكَ صَارَ اِمَاماً يُهْتَدَى به

apabila ia bersabar dari itu semua maka ia akan menjadi pemimpin yang bisa diikuti.

 

          Peristiwa serupa dialami, sewaktu beliau mengantarkan teman beliau sowan ke tulungagung. tujuanya, pertama ingin menanyakan perihal mimpi teman beliau. Dalam mimpi tersebut ia bertemu seseorang yang memakai jubah berwarna hijau dan berbau wangi. Kedua ingin menanyakan perihal jimatnya yang akan dijual kepada seseorang. Jimat tersebut sangat mahal harganya, dari hasil penjualan jimat tersebut untuk biaya pergi haji dan sisanya untuk membangun pondok pesantren. K.H Abdul Djalil berdiri dan sambil duduk berkata ” kyai Djamal, kalau masalah bau-bauan saya sudah belajar sejak kecil, saya sudah terbiasa apa bila ada tamu seeorang yang ahli hakikat maka baunya sangat harum dan menyegarkan, akan tetapi apabila tamunya hanya ahli syari’at tanpa hakikat baunya juga harum tapi agak senga’. Jadi semua wali-wali itu baunya wangi tidak hanya pada nabi-nabi saja. Saya juga membuat jimat, disitu saya tulisi sesuatu kemudian saya bungkus dengan kulit binatang dan saya beri do’a-do’a, ABRI banyak yang senang saya buatkan jimat seperti ini, kalau dijual harganya sangat mahal bisa bernilai puluhan juta, tapi jimat itu jangan dijual, walaupun harganya mahal kalau dijual tidak barokah.” Padahal kyai Djamal dan temannya belum mengungkapkan pertanyaan.

          Mungkin itu sedikit mengenai tanda-tanda orang ma’rifat dan masih banyak lagi perkataan syaikh Junaidi tentang masalah ini.

 

•C.     KEABSAHAN THORIQOH

اطرق كلها مسدودة على الخلق الا من اكتف الرسول صلى الله عليه وسلم وتبع منه ولزم منه ولزم طرقه كان طرق الخيرة كلهامفتوحة عليه

 

semua jalan menuju Alloh bagi makhluk adalah buntu, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak-jejak Rosul, sunnah-sunnahnya serta tetap menjalankan thoriqoh dari Rosul”

Semua jalan yang menuju kepada Alloh akan buntu, maksudnya ialah seorang hamba tidak akan bisa wusul (sampai) kepada Alloh tanpa menjalankan thoriqoh dari Rosululloh SAW. Dari sini mungkin akan timbul pertanyaan, bagaimana dengan thoriqoh Qodiriyyah, apakah thoriqoh tersebut bukan ciptaan dari Syaikh Abdul Qodir Jilani, demikian juga dengan thoriqoh Syadziliyah, bukankah ciptaan dari Syaikh Abu Hasan As Syadzili dan juga thoriqoh-thoriqoh lainya yang ada 94 thoriqoh yang mu’tabaroh dan ditambah amalan dala’ilul khoirot bukankah itu semua ciptaan manusia selain Rosul? Pertanyaan tersebut ada benarnya, akan tetapi perlu diketahui bahwa suatu thoriqoh dapat dikatakan sebagai thoriqoh dari Rosul apabila memenuhi beberapa syarat, diantaranya adalah adanya “silsilah” yaitu mata rantai yang menghubungkan sampai kepada Rosululloh saw. dan apabila tidak ada maka thoriqoh tersebut masih deragukan apakah dari Rosululloh saw. atau bukan. Adapun dalam pengamalanya setiap imam menggunakan metode berbeda-beda, hal ini diperbolehkan tergantung kebijaksanaanya masing-masing.

Adapun amalan-amalan atau wiridan-wiridan dalam thoriqoh ada yang bersifat rukun dan ada yang bersifat sunnah.

 Aurod rukun diantaranya :

  • 1. Istighfar
  • 2. Sholawat
  • 3. Kalimah thoyyibah laailah ilalloh

Selain aurodl diatas, adalah termasuk aurodl sunnah, diberikan sesuai dengan kebijaksanaan mursyid seandainya dirubah tidak menjadi masalah.

          Wirid-wirid tersebut sejak dari Rosululloh saw. sudah ditentukan, akan tetapi dalam segi nama dan tata cara membacanya mungkin berbeda, seperti bacaan istighfar, ada yang mengucapkan

استغفرالله العظيم الذي لااله الا هو الحي القيوم واتوب اليك

Dalam redaksi lain dibaca

اسثغفر الله العظيم لي ولوالدي ولاصحاب الحقوق الواجبات علي ولجميع المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الاحياء منهم والاموات

 

Dalam Thoriqoh Qodiriyyah bacaan istighfar dibaca

استغفر الله الغفور الرحيم

Sedangkan dalam Thoriqoh Syadziliyyah cukup dibaca

استغفر الله العظيم

 

Demikian juga bacaan sholawat, antara Thoriqoh satu dengan lainya bunyinya berbeda-beda. Seperti dalam Thoriqoh Qodiriyyah, Syaikh Abdul Qodir Jilani mengucapkannya dengan

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Dalam Thoriqoh Syadziliyyah sholawat tersebut dibaca dengan lafadz

اَللَّهـُـــمَّ صَلِّ عَلَـى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلـِهِ وَصَـحْبِهِ وَسَـلِّمْ تَسْـِليْمًا بِقَـْدِر عـَظَمَةِ ذَاتِكَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ.

 

Aurodl tersebut Semuanya berasal dari Nabi Muhammad saw yang diijazahkan kepada Saidina Abu Bakar, Saidina Ali terus kebawah sampai sekarang dan akhirnya pecah-pecah menjadi beberapa Thoriqoh Mu’tabaroh.

 

 

 


Kategori